Sesudah Sultanah Tajul Alam wafat pada 1675, tahtanya digantikan Sultanah Nurul Alam Nakiyatuddin. Kepemimpinan itu berlangsung singkat dan belum mampu memulihkan keadaan kerajaan.
Setelah itu, jabatan sultan diserahkan kepada putrinya, Raja Sertia. Namun persoalan yang melanda Aceh terus berlangsung. Baru pada masa perlawanannya terhadap kompeni, sosok seperti Habib Abdurrahman, Teuku Umar, Cik Di Tiro, dan Panglima Polim kembali mengangkat nama Aceh dalam sejarah.
Catatan sejarah menempatkan dua faktor utama penyebab melemahnya Aceh. Pertama, faktor internal berupa lemahnya kepemimpinan setelah masa Sultan Iskandar Muda.
Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah memilih berdiri sendiri. Kedua, meningkatnya pengaruh kaum kapitalis yang mengabaikan kondisi ekonomi kerajaan. Tekanan eksternal juga mempengaruhi keadaan Aceh.
Campur tangan bangsa asing berlangsung semakin kuat setelah kegagalan Aceh merebut Malaka pada masa akhir pemerintahan Iskandar Muda. Sejak itu intervensi luar terus berlanjut hingga kerajaan meminta perlindungan kepada kompeni.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Tonton! Apple Tampilkan Tarian Aceh yang Memukau, Ratoh Jaroe Jadi Sorotan Global!
Liburan Bareng Keluarga di Sabang Aceh, Shireen Sungkar Dibikin Mewek dengan Penampakan Kawanan Ekor Lumba-lumba
Alya Nabila Kerja Apa? 5 Fakta Menarik Istri Gunawan Dwi Cahyo: Berdarah Aceh hingga Disebut Wanita Idaman karena Ini
Kebakaran Lahan di Aceh, Dairi, dan Nias Terjadi saat Cuaca Ekstrem: Mengapa Karhutla Bisa Terjadi di Tengah Hujan Deras?
Penjelasan BMKG Terkait Mekanisme Gempa 5,2 SR di Aceh Selatan, Ada Kaitannya dengan Gempa 5,3 SR yang Mengguncang Pulau Nias Sumatera Utara?