Kamis, 4 Juni 2026

Jalur Dagang Nusantara Mengguncang Dunia Abad ke-15, Beginilah Perjalanan Rempah dari Barus ke Maluku

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 2 November 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi jalur perdagangan di Nusantara. (Pexels/Nothing Ahead)
Ilustrasi jalur perdagangan di Nusantara. (Pexels/Nothing Ahead)

SketsaNusantara.id - Nusantara sudah lama menjadi magnet dunia. Dari hutan-hutan Sumatra hingga perairan Maluku, hasil bumi seperti kemenyan, kapur barus, dan lada membuat para saudagar mancanegara rela melayari lautan luas.

Sejak awal milenium pertama Masehi, perairan Indonesia telah ramai dilalui kapal-kapal dagang dari India, Persia, Arab, dan Tiongkok.

Para saudagar datang bukan sekadar mencari barang, tetapi juga peluang. Mereka menempuh ribuan mil demi hasil hutan yang dianggap berharga tinggi di pasar global.

Baca Juga: 6 Kuliner Tradisional Khas Indonesia yang Terbuat dari Beras Ketan, Cita Rasa Autentik Nusantara, Manis Legit hingga Gurih

Sumatra, yang kala itu dikenal sebagai Swarnnabhumi atau Pulau Emas, menjadi tujuan utama para pedagang yang berburu damar, kemenyan, dan kapur barus.

Barus, Bandar Kapur yang Mengharumkan Nama Nusantara

Sejak lama Barus dikenal sebagai pusat perdagangan hasil hutan, terutama kapur barus. Para saudagar India, Persia, dan Arab datang langsung dari pantai Koromandel di India menuju Barus.

“Barus memang sudah lama dikenal sebagai bandar tempat memasarkan kapur barus,” tulis catatan sejarah, dikutip dari buku Warisan Bahari Indonesia karya Bambang Budi Utomo terbitan Pustaka Obor tahun 2016. Hasil hutan ini tumbuh subur di hutan-hutan Sumatra Utara dengan kualitas terbaik.

Baca Juga: Hukum Maritim Modern Ternyata Lahir dari Nusantara, Inilah Jejak Amanna Gappa dan Raja Bali Kuno

Selain Barus, beberapa bandar penting lain turut berkembang, seperti Kedah di Semenanjung Tanah Melayu dan Palembang di Sumatra timur.

Ketiganya menjadi simpul utama perdagangan yang ramai disinggahi kapal dagang. Tak hanya kapur barus, komoditas lada dari Sumatra Selatan, Bangka, dan Jawa Barat mulai memperkaya pasar niaga pada masa itu.

Para saudagar Tionghoa berangkat dari Kanton, menyusuri pantai Indocina, masuk ke Selat Melaka, hingga mencapai Barus dan Palembang. Sebagian melanjutkan pelayaran menuju Mataram di Jawa.

Jejak arkeologi dan catatan sejarah menunjukkan bahwa mereka menjelajah hingga ke pantai utara Jawa dan timur Kalimantan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X