Kesenian ini pertama kali dibawakan oleh seorang perempuan bernama Semi, lalu dilanjutkan oleh adik-adiknya dengan membawa nama panggung berawalan “Gandrung”.
Seiring waktu, kesenian ini menyebar ke seluruh penjuru Banyuwangi dan menjadi salah satu identitas kebudayaan masyarakat Banyuwangi.
3. Awalnya Terbatas
Pada awalnya kesenian ini hanya boleh ditarikan oleh para pelaku seni yang berasal dari keluarga penari Gandrung.
Namun sejak 1970-an, banyak perempuan muda yang berasal dari luar garis keturunan tersebut yang mempelajarinya dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
4. Laki-Laki Berdandan Perempuan
Pada perkembangannya, kesenian ini sempat dibawakan oleh laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan.
Namun seiring dengan pengaruh ajaran agama yang melarang laki-laki menyerupai perempuan, tradisi tersebut sudah mulai jarang ditemui.
Pada 1914 penampilan tari gandrung yang diperankan oleh laki-laki benar-benar sudah tidak ada.
5. Simbol Perlawanan
Pada masa penjajahan, kesenian tari gandrung menjadi simbol perlawanan masyarakat Banyuwangi terhadap kolonial.
Pesan moral dan semangat patriotisme disampaikan melalui gerakannya yang energik, ekspresif, dan memikat.
6. Penghormatan Kepada Alam Semesta
Lebih dari sekadar seni pertunjukan, tari gandrung memiliki makna sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Setiap gerakannya memiliki makna tersendiri.
Kelembutan gerakan tangan mencerminkan rasa syukur dan penghormatan, sedangkan gerakan langkah kaki yang dinamis menjadi simbol kerja keras serta keteguhan hati.
Artikel Terkait
Cara Dakwah Sunan Muria: Sang Penyebar Islam di Gunung Muria dengan Kesenian dan Kebudayaan
Apa Hubungannya dengan Sunan Kalijaga? Sejarah Tari Tayub, Lenggak-Lenggok Cantik Kesenian dari Nganjuk
5 Hasil Kesenian Sunan Kalijaga untuk Syiar Dakwah Islam di Pulau Jawa, Nomor 4 Penuh Makna Filosofis yang Sering Dilupakan
Festival Rakyat Ramadhan 1446 H Sambut Kedatangan Bupati dan Wakil Bupati Jember, Nyoman: Kita Hadirkan Kesenian dan Kebudayaan
Unik dan Menyeramkan, Inilah Kesenian Can Macanan Kadduk dan Ta Butaan yang Tertua di Jember