Kamis, 4 Juni 2026

Sebelum Dunia Mengenal Kapal Katamaran, Pelaut Nusantara Sudah Menciptakannya Ribuan Tahun Lalu

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Ilustrasi kapal warisan nenek moyang di Nusantara. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi kapal warisan nenek moyang di Nusantara. (Pexels/Pixabay)

Koridor Bahari dan Lahirnya Katamaran

Arkeolog sekaligus pelaut Geoffrey Irwin menyebut wilayah laut antara Filipina, Maluku, dan Melanesia sebagai “koridor pelayaran Austronesia”.

“Di sepanjang koridor inilah mereka berlatih dan mempraktekkan berbagai teknologi pelayaran baru,” tulis Bambang mengutip pendapat Irwin.

Di kawasan itu pula diyakini lahir model kano ganda atau katamaran, dua perahu kecil sejajar dengan lunas ganda yang mampu membawa muatan lebih banyak dan melaju lebih stabil di lautan terbuka.

Desainnya memungkinkan pelayaran jarak jauh dengan kecepatan lebih tinggi, bahkan menjadi cikal bakal kapal besar di era modern.

Dari Rakit ke Perahu Bercadik

Evolusi teknologi perahu dimulai dari rakit bambu sederhana. Tahap berikutnya adalah penyusunan balok kayu yang digabung, lalu diceruk bagian dalamnya hingga membentuk kano.

Bambang menulis, bentuk rakit kayu ini kemudian berkembang menjadi perahu berlunas ganda, dan selanjutnya menjadi perahu bercadik tunggal serta bercadik ganda.

Kemampuan beradaptasi dan berinovasi inilah yang menjadikan pelaut Austronesia dikenal sebagai penjelajah laut tangguh di dunia kuno.

Gua dan Jejak Gambar Perahu

Setelah lama berlayar, para pelaut Austronesia mulai menetap di sejumlah wilayah Nusantara. Mereka memilih tempat tinggal di gua-gua seperti di Misool (Papua Barat), Kepulauan Muna (Sulawesi Tenggara), dan beberapa pulau lain.

Namun, warisan bahari tetap mereka bawa. Dinding gua-gua itu dipenuhi lukisan perahu, simbol keterikatan mendalam antara manusia dan laut dalam budaya Nusantara.

Jejak perahu bercadik di batu-batu gua dan istilah bahari dalam bahasa daerah menjadi bukti kuat: teknologi maritim lahir dari rahim Nusantara, jauh sebelum dunia mengenalnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Buku Warisan Bahari Indonesia, Yayasan Obor Indonesia 2016

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X