Senin, 20 Juli 2026

Bukan dari Nusantara? Ini Asal Usul Bangsa Bahari yang Menyebar dari Taiwan ke Seluruh Samudra

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 22 Oktober 2025 | 15:00 WIB
Ilustrasi, kapal warisan bangsa bahari. (Pexels/Beth Fitzpatrick)
Ilustrasi, kapal warisan bangsa bahari. (Pexels/Beth Fitzpatrick)

SketsaNusantara.id - Sejarah bangsa bahari selalu menarik untuk ditelusuri. Siapa sebenarnya nenek moyang pelaut ulung yang dikenal mampu mengarungi samudra luas jauh sebelum teknologi modern ditemukan?

Para ahli menyebut mereka adalah penutur bahasa Austronesia, kelompok yang bermula dari Taiwan ribuan tahun silam.

Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Warisan Bahari Indonesia yang ditulis Bambang Budi Utomo terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia tahun 2016, penelusuran sejarah linguistik mengungkap bahwa Austronesia bukan sekadar istilah bahasa, melainkan juga penanda peradaban besar yang berkembang di Asia Timur pada 5000 hingga 7000 tahun lalu.

Baca Juga: Bukan 1.000? Ternyata Segini Jumlah Pulau di Kepulauan Seribu, 6 di Antaranya Jadi Destinasi Wisata Bahari Jakarta

Dari wilayah Taiwan, kelompok manusia ini memadukan teknik pertanian dari Tiongkok Selatan dengan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan kepulauan.

Mereka juga mulai menguasai cara menyeberangi selat, sebuah keahlian penting yang kelak menjadikan mereka pelaut tangguh.

Sekitar milenium ke-3 sebelum Masehi, para penutur Austronesia meninggalkan Taiwan menuju selatan dan tiba di Filipina.

Baca Juga: Berlayar sejak Tahun 1500, Kapal 7 Layar ini adalah Bukti Keperkasaan Pelaut Indonesia yang Mendunia

Di tempat baru ini, mereka mengembangkan teknik perladangan berpindah, pembuatan perahu, serta tembikar.

Dari sinilah lahir subrumpun bahasa yang dikenal sebagai Melayu-Polynesia, fondasi bagi penyebaran budaya bahari ke berbagai penjuru samudra.

Menjelang milenium pertama sebelum Masehi, kelompok penutur Melayu-Polynesia Barat sudah mencapai berbagai wilayah pesisir Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara.

Mereka datang ke Champa di Indocina, lalu ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sumatra.

Dalam perjalanannya, mereka terus beradaptasi dengan kondisi alam yang berbeda-beda, namun tetap membawa jejak peradaban yang sama, kemampuan berlayar, bercocok tanam, dan membuat kerajinan dari tanah liat.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Buku Warisan Bahari Indonesia, Yayasan Obor Indonesia 2016

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X