Kamis, 4 Juni 2026

Harmoni Religi dan Budaya dalam Upacara Sekaten di Daerah Istimewa Yogyakarta Sebagai Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Photo Author
Arif Rohman Mu'tasim, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 6 September 2025 | 09:26 WIB
Suasana Garebeg Mulud Kraton Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta (tby.jogjaprov.go.id)
Suasana Garebeg Mulud Kraton Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta (tby.jogjaprov.go.id)

Sepasang gamelan tersebut memiliki nama masing-masing yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga.

Dilansir SketsaNusantara.id dari kratonjogja.id, seperangkat Gangsa (gamelan) yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta pada mulanya keduanya merupakan warisan dari Kerajaan Mataram, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari.

Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, Kyai Guntursari diserahkan pada Kasunanan Surakarta.

Baca Juga: 2 Masakan Telur Legendaris Favorit Sultan Kraton Yogyakarta, Warisan Nusantara yang Kaya Rempah

Gangsa Sekaten seperti awal mulanya adalah sepasang, oleh karena itu agar kembali pada kelengkapan semula, Kasultanan Yogyakarta membuat putran (duplikasi) dari Kyai Guntursari yang diberi nama Kyai Nagawilaga.

Tahapan-Tahapan Upacara Sekaten

Upacara Sekaten dilakukan dengan berbagai rangkaian acara. Secara garis besar terdapat 4 acara inti, di antaranya adalah:

1. Tahap Gamelan Pusaka Sekaten dibunyikan pertama kali, sebagai pertanda dimulainya Upacara Sekaten.

Baca Juga: Pasar Wiguna Yogyakarta: Tempat Belanja Karya Seni Lokal dan Kuliner Sehat dengan Konsep Eco Culture Unik

Dalam tahap ini diselenggarakanlah Upacara Udhik-Udhik, yaitu menyebar biji-bijian dan uang logam yang dimaksudkan sebagai simbol sedekah, doa keselamatan, dan kesejahteraan dari Raja kepada rakyatnya.

2. Tahap Gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Gedhe Kauman, di Pagongan sebelah Utara dan Selatan.

Pagongan adalah sepasang bangunan yang terletak saling berhadapan di halaman Masjid.

3. Tahap Sri Sultan dan pengiringnya hadir di Masjid Gedhe Kauman untuk mendengarkan pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad. Dalam tahap ini diselenggarakanlah Upacara Udhik Udhik, di Pagongan dan di serambi Masjid.

4. Tahap dikembalikannya Gamelan Sekaten dari halaman Masjid Gedhe Kauman ke dalam Kraton Yogyakarta untuk menandai ditutupnya Upacara Sekaten.

Garebeg Mulud Sebagai Penutup Acara

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X