Minggu, 19 Juli 2026

Terancam Punah, 2 Ritual Unik Pemuda-Pemudi di Sumatera Selatan dan Lampung ini Jadi Warisan Budaya yang Sangat Jarang Diketahui

Photo Author
Arif Rohman Mu'tasim, Sketsa Nusantara
- Kamis, 28 Agustus 2025 | 21:10 WIB
Tradisi Ningkukan yang diikuti pemuda-pemudi Sumatera Selatan sebagai ajang mempererat persaudaraan dan mencari jodoh. (Youtube.com/Bidang Kebudayaan Disdikbud Banyuasin)
Tradisi Ningkukan yang diikuti pemuda-pemudi Sumatera Selatan sebagai ajang mempererat persaudaraan dan mencari jodoh. (Youtube.com/Bidang Kebudayaan Disdikbud Banyuasin)

 

SketsaNusantara.id - Salah satu tata cara adat yang masih dipertahankan di berbagai suku daerah Indonesia adalah adat pernikahan.

Beragam rangkaian acara dilaksanakan untuk mempersatukan dua insan dalam ikatan suci ini dengan corak yang berbeda sesuai dengan ciri khas budaya setempat masing-masing.

Dari berbagai macam adat-istiadat tersebut, ada yang menarik dari tradisi pernikahan yang terdapat di Sumatera Selatan dan Lampung, yaitu kegiatan Lempar Selendang bagi pemuda dan pemudi sebelum atau sesudah acara pernikahan tersebut dimulai.

Baca Juga: Cinta Laura Lakukan Ritual yang Khas dengan Adat Agama Hindu, Malah Menuai Protes dari Netizen: Lho, Bukannya Islam?

Kegiatan Lempar Selendang ini di Sumatera Selatan kerap disebut Ningkuk atau Ningkukan, sedangkan di Lampung biasa disebut dengan Ningkok. Keduanya memiliki ciri dan bentuk kegiatan yang serupa.

1. Ningkuk/Ningkukan di Sumatera Selatan

Kegiatan Lempar Selendang di provinsi yang terkenal dengan Sungai Musinya ini biasa dilakukan menjelang akad nikah atau setelah resepsi dilaksanakan.

Pada kegiatan ini, pertama-tama pemuda dan pemudi dikumpulkan dalam satu tempat. Mereka adalah kerabat atau teman dekat dari kedua mempelai dalam acara pernikahan yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Misteri di Puncak Gunung Lawu Apakah Ini Ritual Rahasia atau Tradisi Tahunan?

Para peserta akan duduk terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pemuda dan kelompok pemudi. Sepasang pengantin akan bertindak sebagai Raja dan Ratu, didampingi seorang moderator yang akan memandu jalannya permainan.

Saat permainan dimulai, dua selendang akan dioper secara bergantian antar kelompok. Diiringi musik sebagai penanda waktu, saat musik berhenti orang yang memegang selendang akan mendapatkan hukuman dari Raja dan Ratu. Hukuman yang diberikan dapat berupa bernyanyi, berjoget, atau berpantun.

Menjadi warisan tradisi dari nenek moyang Ogan Komering Ulu (OKU), sampai saat ini Ningkuk/Ningkukan masih dilestarikan di beberapa daerah di Sumatera Selatan.

2. Ningkok di Lampung

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X