Mereka diyakini sebagai wakil langsung Sanghyang Tunggal di dunia.
7. Bahasa Spiritual Menggunakan Akar Kata “Pi”
Kata ganti dan tindakan dalam bahasa para ra-Tu selalu diawali dengan “Pi”, seperti Pi-tutur (nasihat), Pi-nakahulun (aku), Pi-dana (hukuman), hingga Pi-tapuja (ritual untuk leluhur).
Hal itu menandakan mereka membawa kekuatan sakral yang disebut “Pi”, kekuatan rahasia dari Sanghyang Taya.
Agama Kapitayan memang nyaris tenggelam dalam arus sejarah besar masuknya Hindu, Buddha, dan Islam.
Namun, jejaknya masih tersisa dalam budaya, bahasa, dan tradisi masyarakat Jawa hingga kini. Barangkali, inilah bukti bahwa spiritualitas Nusantara memiliki akar jauh lebih tua.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Keluarga Mempelai Pernikahan Dini di Lombok Laporkan Balik LPA dengan Tuduhan Kriminalisasi Syiar Agama...
Agama Amanda Rawles dan Adriel Susanteo Dipertanyakan Publik Usai Menikah, Siapa yang Log In?
Menteri Agama Ungkap Tengah Berkoordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi Terkait Visa Haji Furoda
Kementerian Agama Republik Indonesia Keluarkan Imbauan kepada Jemaah Haji yang akan Beribadah di Arafah
Andrew Andika Baru Cerai dari Tengku Dewi Sudah Kenalkan Pacar Baru: Dia Membuatku Lebih Kenal Agama...