“Fungsi dari wayang ini biasanya untuk suasana angker/atau wingit,” begitu tertulis dalam keterangan unggahan @wayangheritage.
Namun dalam perkembangannya, tokoh-tokoh ini juga kerap dimunculkan sebagai selingan atau ice breaking, terutama dalam pertunjukan yang panjang atau bersifat hiburan.
Ada pula yang menggambarkan tokoh ini secara vulgar untuk mengekspresikan kelucuan gelap atau menertawakan rasa takut.
Meskipun tidak selalu menjadi tokoh utama, dalam lakon-lakon ritual seperti Lakon Ruwatan, Wayang Setanan bisa menjadi inti pertunjukan.
Wayang Setanan menunjukkan bagaimana budaya Jawa tidak hanya mengagungkan yang luhur dan sakral, tetapi juga memberi ruang bagi ketakutan, mitos, dan sisi gelap manusia.
Di situlah kekuatan simbolik wayang hidup antara dunia nyata dan dunia lain, antara ksatria dan setan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Dunia Wayang Kulit Berduka, Dalang Senior Ki Warseno Slenk Meninggal Dunia, Sempat Dirawat, Sakit Apa?
Siapa Nama Asli Ki Warseno Slenk? Mengenal Lebih Dekat Dalang Wayang Kulit Senior Bergelar Doktor yang Tutup Usia
Sujiwo Tejo Sebut Bercandaan Gus Miftah pada Yati Pesek Sudah Biasa, Benarkah Guyonan Menyindir Fisik Dianggap Wajar dalam Pagelaran Wayang?
Karakter Tragis dalam Wayang Kulit, Kisah Sang Ksatria yang Terjebak Antara Kesetiaan dan Identitas Asli