Sejak diresmikan sebagai kampung wisata, warga Kampung Kramat perlahan-lahan merasakan dampaknya. Ekonomi mulai tumbuh berkat kedatangan wisatawan.
Beberapa warga memproduksi cinderamata khas seperti tasbih, kerajinan dari ban bekas, hingga yang paling ikonik: kopi tengkorak.
Suasana kampung memang sangat bersahabat dan jauh dari nuansa menyeramkan seperti yang dibayangkan banyak orang.
Sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari situs resmi Pemkot Malang, keberadaan Kampung Kramat menjadi salah satu bukti bagaimana ruang pemakaman bisa disulap menjadi ruang hidup yang layak dan produktif bagi masyarakat.
Kampung Kramat menjadi simbol bahwa kehidupan dan kematian bukanlah kutub yang selalu harus bertolak belakang.
Di kampung ini, keduanya justru saling menyatu. Dari makam, warga mendapatkan pekerjaan, rezeki, dan bahkan identitas kultural yang khas.
Dan barangkali, itulah pelajaran paling penting dari Kampung Kramat, bahwa kematian tak harus ditakuti, tetapi bisa dijadikan sumber penghidupan, dengan cara yang unik dan manusiawi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Turis Mancanegara Akan Datangi Wisata di Jember, Ini Persiapan yang Dilakukan Jajaran Pemkab Jember
Pemandian Patemon di Mana? Destinasi Wisata Favorit Warga Jember yang Menyimpan Kisah Cinta Dewi Rengganis, Kini Diterpa Masalah Kepemilikan Lahan
Pemandian Patemon Punya Siapa? Viral Area Wisata Legendaris Jember yang Berdiri sejak 1982, Ternyata Dibangun di Atas Lahan Milik Warga
Wisata Jember Dilirik Turis Asing, Komisi B DPRD Jember Dorong Pemkab Genjot Promosi
Daftar Wisata Jember dan Banyuwangi Terhits 2025, Ada Pantai Sukomade yang Penuh Penyu hingga Pantai Terkenal Ini