Yang menarik, gelar-gelar ini masih bertahan hingga sekarang dan digunakan oleh banyak keluarga bangsawan Jawa, meski secara formal sistem kasta sudah tidak berlaku.
3. Waisya hingga Sudra: Kaum Karya dan Pekerja
Waisya di Majapahit adalah para pedagang, pengelola aset, dan pekerja cerdas yang hampir identik dengan pengusaha masa kini. Mereka dikenal sebagai sosok yang penuh perhitungan dan tekun.
Sementara itu, Sudra adalah kelas pekerja jasmani, petani, tukang, pelayan, dan serupa. Mereka dihargai karena kekuatan fisik dan ketekunan.
Di era Demak, pembagian ini tidak seketat Majapahit. Namun tetap ada kelompok masyarakat kelas bawah yang meliputi petani, nelayan, perajin, dan buruh. “Golongan paling rendah disebut belian,” tulis KH Agus Sunyoto.
4. Candala, Mleccha, Tuchha: Golongan ‘Buangan’ dalam Sistem Sosial
Yang paling menarik sekaligus menyedihkan adalah keberadaan 3 golongan terbawah di masa Majapahit:
Candala: anak hasil perkawinan campur antara laki-laki sudra dan perempuan dari kasta atas. Mereka dianggap "tidak murni".
Mleccha: orang asing non-pribumi (Arab, Cina, India, dll) yang dianggap berbeda agama dan warna kulit. Mereka seringkali hanya dianggap sebagai "kaum luar".
Tuchha: golongan yang dianggap merugikan masyarakat, seperti pencuri, penipu, dan sejenisnya.
Menurut KH Agus Sunyoto, “Tuchha adalah golongan yang statusnya tidak diakui dan sering dianggap hina.” Bahkan setelah era Demak, jejaknya masih bisa ditemukan dalam istilah rakyat seperti Syaikh Domba, Syaikh Kewel, dan sebagainya.
Dari pembagian tersebut, kita bisa melihat bagaimana sistem sosial zaman dulu sangat tegas dan hirarkis. Namun, ia juga menyisakan luka sosial yang mendalam bagi mereka yang tak dianggap "murni" atau "layak".
Walau secara resmi sistem kasta seperti ini tak lagi digunakan, warisan nilai dan gelar dari masa Majapahit dan Demak masih hidup dalam budaya Jawa hingga kini.
Bahkan, kita masih bisa mendengar istilah seperti "kawula alit", "ndoro", atau "kasta" dalam percakapan sehari-hari.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Seperti Kembali ke Zaman Majapahit! Kampung di Mojokerto Ini Pertahankan Arsitektur dan Warisan Sejarah Kerajaan
Jejak Keturunan Majapahit di Zaman Modern, Kisah Mbah Ji yang Tak Menua di Usia 75 Tahun dan Rahasia Staminanya
Kapal Tradisional yang Jadi Alat Intai Majapahit hingga Kesultanan Siak, Kini Jadi Ikon Provinsi Riau
Melihat Situs Beteng Semboro Jember Jawa Timur, Jadi Saksi Bisu Pertempuran Era Majapahit yang Tak Terlupakan!
Candi Deres yang Mulai Dilupakan, Jejak Sejarah Majapahit dari Reruntuhan Sunyi di Pelosok Jember