Kamis, 4 Juni 2026

7 Kasta Zaman Majapahit dan Demak yang Jarang Dibahas Buku Sejarah, Ada 3 Golongan Buangan yang Menyedihkan di Era Pra-Islam

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 14 Juni 2025 | 19:00 WIB
Ilustrasi, pembagian golongan kasta di masyarakat Jawa. (Pexels/Andreas Suwardy)
Ilustrasi, pembagian golongan kasta di masyarakat Jawa. (Pexels/Andreas Suwardy)

Yang menarik, gelar-gelar ini masih bertahan hingga sekarang dan digunakan oleh banyak keluarga bangsawan Jawa, meski secara formal sistem kasta sudah tidak berlaku.

3. Waisya hingga Sudra: Kaum Karya dan Pekerja

Waisya di Majapahit adalah para pedagang, pengelola aset, dan pekerja cerdas yang hampir identik dengan pengusaha masa kini. Mereka dikenal sebagai sosok yang penuh perhitungan dan tekun.

Sementara itu, Sudra adalah kelas pekerja jasmani, petani, tukang, pelayan, dan serupa. Mereka dihargai karena kekuatan fisik dan ketekunan.

Di era Demak, pembagian ini tidak seketat Majapahit. Namun tetap ada kelompok masyarakat kelas bawah yang meliputi petani, nelayan, perajin, dan buruh. “Golongan paling rendah disebut belian,” tulis KH Agus Sunyoto.

4. Candala, Mleccha, Tuchha: Golongan ‘Buangan’ dalam Sistem Sosial

Yang paling menarik sekaligus menyedihkan adalah keberadaan 3 golongan terbawah di masa Majapahit:

Candala: anak hasil perkawinan campur antara laki-laki sudra dan perempuan dari kasta atas. Mereka dianggap "tidak murni".

Mleccha: orang asing non-pribumi (Arab, Cina, India, dll) yang dianggap berbeda agama dan warna kulit. Mereka seringkali hanya dianggap sebagai "kaum luar".

Tuchha: golongan yang dianggap merugikan masyarakat, seperti pencuri, penipu, dan sejenisnya.

Menurut KH Agus Sunyoto, “Tuchha adalah golongan yang statusnya tidak diakui dan sering dianggap hina.” Bahkan setelah era Demak, jejaknya masih bisa ditemukan dalam istilah rakyat seperti Syaikh Domba, Syaikh Kewel, dan sebagainya.

Dari pembagian tersebut, kita bisa melihat bagaimana sistem sosial zaman dulu sangat tegas dan hirarkis. Namun, ia juga menyisakan luka sosial yang mendalam bagi mereka yang tak dianggap "murni" atau "layak".

Walau secara resmi sistem kasta seperti ini tak lagi digunakan, warisan nilai dan gelar dari masa Majapahit dan Demak masih hidup dalam budaya Jawa hingga kini.

Bahkan, kita masih bisa mendengar istilah seperti "kawula alit", "ndoro", atau "kasta" dalam percakapan sehari-hari.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X