SketsaNusantara.id - Patung Biawak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, belakangan ini ramai jadi perhatian publik hingga viral di media sosial.
Desainnya yang sangat realistis, menyerupai biawak asli, menjadi kebanggaan baru warga Wonosobo.
Bahkan, karya ini telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) oleh Kemenkumham Jawa Tengah.
Patung setinggi tujuh meter ini berdiri kokoh di Jalan Nasional Wonosobo-Banjarnegara. Selain sukses membuat para pengguna jalan salfok, tugu biawak ini juga menjadi simbol kreativitas, efisiensi anggaran, dan semangat gotong royong warga.
Dibangun dengan dana patungan warga sebesar Rp 50 juta, Patung atau Tugu Biawak ini dipuji sebagai karya seni artistik yang lebih baik kualitasnya dibandingkan Tugu Pesut Mahakam yang menghabiskan dana Rp 1,1 miliar atau Tugu Penyu Sukabumi senilai Rp 15,6 miliar yang kontroversial karena bahannya ternyata dari kardus.
Keberhasilan tugu Biawak ini tak lepas dari tangan dingin Rejo Arianto. Sosoknya kini dikenal khalayak luas sebagai seniman berbakat yang menuai pujian warganet di media sosial.
Rejo Arianto merupakan seniman lokal yang lahir dan besar di Wonosobo. Ia merupakan lulusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dengan spesialisasi seni lukis.
Sebelum terjun ke dunia seni patung, pria atau akrab disapa Mas Ari ini dikenal sebagai pelukis ulung, dengan sejumlah karya lukisannya menghiasi Pendopo Bupati dan kantor Pemerintah Kabupaten Wonosobo.
Dedikasinya pada seni rupa juga tercermin dari keterlibatannya dalam Komite Seni dan Budaya Wonosobo, di mana ia diakui sebagai salah satu perupa berpengaruh bersama seniman lain seperti Jati Wegig dan Edi Sriyanto.
Meski berlatar belakang seni lukis, Rejo memiliki ketertarikan mendalam pada seni tiga dimensi. Tugu Biawak adalah patung ketiganya, setelah sebelumnya membuat patung Ganesha untuk sebuah kafe dan patung kuda untuk klien perorangan.
Karya-karya Rejo Arianto dapat dilihat melalui akun Instagram pribadinya yang kini menarik perhatian publik, menunjukkan kreativitas dan hasil kerja kerasnya sebagai seniman berbakat.
Artikel Terkait
Kini Jadi Sentra Produsen Ciu! Desa di Jawa Tengah Ini Menyimpan Kisah Keturunan Kerajaan Majapahit, Bikin Takjub Ratu Surakarta karena Gemerlapnya
5 Fakta Insiden Pendaki Perempuan Asal Semarang yang Hilang saat Mendaki Gunung Slamet Jawa Tengah
Ada Sejak 1987! Inilah Tahu Gimbal Puspogiwang Semarang Jawa Tengah, Kuliner Legendaris dengan Rasa Autentik
Siapa Suami RA Kartini? Mengenal Bupati Rembang yang Jadi Pendukung Perjuangan Emansipasi Wanita, Ikut Mendirikan Sekolah Keputrian di Jawa Tengah
Lebih Tinggi dari Thailand, Kenaikan Pajak Kendaraan di Jawa Tengah Picu Kekhawatiran Konsumen dan Pelaku Industri