Sebagai warisan budaya yang tercipta dari semangat perlawanan terhadap penjajahan Belanda, Tari Glipang memiliki corak yang identik dengan seorang prajurit.
Kesan tersebut dapat terlihat langsung dari riasan yang maskulin berupa cambang, kumis, dan perona mata yang tebal.
Tampilan tersebut dimaknai sebagai sosok prajurit laki-laki yang gagah, ditakuti, dan kuat dalam melawan musuh-musuhnya.
Tari Glipang juga memiliki semboyan “etembeng pote matah, mongok potiah tolang” yang artinya daripada putih mata, lebih baik putih tulang.
Semboyan tersebut melambangkan watak masyarakat Madura yang memegang teguh harga diri, sehingga pantang menyerah, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!