Kamis, 2 Juli 2026

Ramai Disorot, Atalia Praratya Pertanyakan Lagu 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' Ciptaan Bupati Purwakarta: Karya Seni atau Merendahkan Perempuan?

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Kamis, 2 Juli 2026 | 16:31 WIB
Atalia Praratya Kritik Keras Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta yang Dinilai Merendahkan Perempuan dan tidak mencerminkan Nilai luhur Budaya Sunda (Instagram/ataliapr)
Atalia Praratya Kritik Keras Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta yang Dinilai Merendahkan Perempuan dan tidak mencerminkan Nilai luhur Budaya Sunda (Instagram/ataliapr)

SketsaNusantara.id – Anggota DPR RI, Atalia Praratya, melontarkan kritik keras terhadap lagu berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diciptakan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein.

Lagu tersebut belakangan ini ramai jadi sorotan dan menjadi perbincangan hangat media sosial karena liriknya mengandung stereotip yang dinilai merendahkan perempuan.

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan sosial, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak, Atalia mengaku prihatin dengan hadirnya karya tersebut.

Menurutnya, seorang pejabat publik semestinya menghadirkan karya yang mengandung nilai edukatif dan memberi teladan bagi masyarakat.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia membagikan tangkapan layar video musik lagu tersebut sekaligus mengajak masyarakat memberikan teguran sosial kepada pembuatnya.

Baca Juga: Hotman Paris Semprot Menteri HAM di Tengah Ramainya Kasus Pelecehan Perempuan: Minta Anggaran Miliaran, Tapi Kementerian Gak Punya Hotline Pengaduan

"Serius, lagu ciptaan pejabat publik seperti ini?? Mari kasih paham. Serius, lagu ini karya seni atau merendahkan? Bukan sekadar karya, tapi cermin pola pikir yang merusak," tulis Atalia dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @ataliapr, pada  hari Rabu, 1 Juli 2026.

Unggahan itu pun menuai perhatian warganet. Banyak yang ikut memperdebatkan isi lagu tersebut, terutama karena menggunakan sejumlah diksi yang merujuk pada gambaran kondisi biologis perempuan.

Dalam unggahannya, Atalia juga menampilkan terjemahan beberapa penggalan lirik berbahasa Sunda yang dinilai memuat kata-kata berkonotasi negatif, seperti "kutang", "keguguran", "payudara", hingga "telat datang bulan".

Publik menilai penggunaan diksi tersebut justru memperkuat kesan bahwa perempuan dijadikan objek lelucon dalam lagu tersebut.

Atalia pun mempertanyakan alasan dipilihnya narasi semacam itu, padahal bahasa Sunda memiliki begitu banyak kosakata indah yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan positif kepada masyarakat.

Baca Juga: Marshanda Peluk dan Dukung Korban Pelecehan yang Kini Diangkat Jadi Film 'Saat Aku Bersuara', Bongkar Apa Saja Kesulitannya Saat Perankan dan Syuting

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia dalam caption unggahannya.

Lebih lanjut, mantan istri Ridwan Kamil itu juga mengingatkan  untuk melestarikan budaya Sunda yang selama ini dibangun di atas nilai-nilai luhur "silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi" dengan mengajarkan pentingnya saling menyayangi, saling memajukan ilmu, dan saling membimbing.

Halaman:

Editor: Mila Zhely Nurul Hidayah

Sumber: Instagram @ataliapr

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X