Dalam konteks ini, komentar bernada merendahkan dinilai mencerminkan persepsi superioritas Korea Selatan yang memicu reaksi solidaritas dari negara-negara Asia Tenggara.
Menurut Rhenald, konflik SEAblingsvs Knetz ini telah bergeser menjadi persoalan persepsi dan relasi antarbangsa. Ia menyoroti bagaimana komentar bernada hinaan bisa memantik solidaritas regional yang kuat.
"Ketika hinaan dilontarkan, solidaritas muncul. Ini bukan lagi sekadar fandom, melainkan pertarungan soft power," terangnya.
Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu pun mengaitkan fenomena ini dengan teori soft power yang dipopulerkan oleh Joseph Nye.
"Seperti kata Joseph Nye, kekuatan hari ini bukan ditunjukkan dari kekuatan militer atau uang, tapi dengan attraction atau seni pertunjukan. Barack Obama juga mengingatkan bahwa bangsa yang dihormati adalah bangsa yang menimbulkan kekaguman," ujarnya.
Rhenald juga mengingatkan bahwa perseteruan ini bahkan bisa meruntuhkan soft power Korea Selatan. Ia menyebut sebuah negara bisa runtuh bukan karena budayanya, tetapi karena perilaku warganya sendiri.
"Jadi ini soal hirarki global. Dan kelihatannya, peta memang tengah berubah. Kalau tidak hati-hati, K-pop ini tentu akan mengalami keruntuhan," ucapnya.
"Soft power itu tidak menimbulkan keruntuhan, karena budayanya lemah. Tetapi karena perilaku dari warga negaranya sendiri," tandasnya.
Pernyataan tersebut membuka ruang diskusi publik. Banyak warganet yang sepakat bahwa gelombang Korean Wave atau Hallyu selama ini membangun citra positif Korea Selatan lewat musik, drama, film, dan budaya populer.
Namun, di sisi lain, perilaku individu netizen Korea yang mengarah pada isu rasisme dan cenderung kurang menghormati negara lain di ruang digital, justru akan mencoreng citra baik tersebut.
Belakangan ini, sejumlah influencer Korea Selatan bahkan ikut terseret dalam pusaran konflik. Ada yang sampai trauma dan menangis setelah mendapat serangan saat live TikTok dari warganet Indonesia.
Meski begitu, tak sedikit pula influencer dan konten kreator yang secara terbuka menyampaikan permintaan maaf. Mereka menegaskan bahwa rasisme tidak seharusnya terjadi dan komentar rasis tidak mewakili mayoritas masyarakat Korea.
Artikel Terkait
Indonesia Jadi Bahan Rasisme Warga Negara Asing Korea Selatan di Forum Online, Ini yang Mereka Katakan!
Carmen yang Bakal Debut di SM Entertainment Mendadak Diklaim Malaysia, 5 Artis Indonesia Ini Ternyata Juga Pernah Diklaim dari Negeri Jiran
Carmen Sukses Curi Perhatian Publik, Gadis Indonesia Pertama yang Debut di SM Entertainment Ternyata Punya Peran Penting di Hearts2Hearts
Berapa Biaya Operasi Plastik di Korea Selatan, Artis Ini Sebut Angka Fantastis untuk Prosedur Kecantikan, Capai Ratusan Juta Rupiah?
Animasi Jumbo Tembus Korea Selatan, Bukti Karya Anak Bangsa Makin Diperhitungkan Global
Jadi Sorotan Media Asing, Inilah Beragam Tradisi Unik Perayaan Imlek di Indonesia, Semarak Tahun Baru China dengan Akulturasi Budaya yang Penuh Makna