Minggu, 19 Juli 2026

Apa itu Hierarki Budaya? Rhenald Kasali Soroti Perseteruan SEAblings vs Knetz yang Bisa Meruntuhkan Soft Power Korea Selatan, Begini Penjelasannya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 21 Februari 2026 | 07:03 WIB
Potret Rhenald Kasali singgung soal hierarki budaya saat soroti fenomena SEAblings vs Knetz yang kian memanas di media sosial (Instagram/rhenald.kasali)
Potret Rhenald Kasali singgung soal hierarki budaya saat soroti fenomena SEAblings vs Knetz yang kian memanas di media sosial (Instagram/rhenald.kasali)

Dalam konteks ini, komentar bernada merendahkan dinilai mencerminkan persepsi superioritas Korea Selatan yang memicu reaksi solidaritas dari negara-negara Asia Tenggara.

Menurut Rhenald, konflik SEAblingsvs Knetz ini telah bergeser menjadi persoalan persepsi dan relasi antarbangsa. Ia menyoroti bagaimana komentar bernada hinaan bisa memantik solidaritas regional yang kuat.

"Ketika hinaan dilontarkan, solidaritas muncul. Ini bukan lagi sekadar fandom, melainkan pertarungan soft power," terangnya.

Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu pun mengaitkan fenomena ini dengan teori soft power yang dipopulerkan oleh Joseph Nye.

Baca Juga: Respons Tak Terduga Baskara Mahendra Usai Mendadak Ikut Terseret Fenomena SEAblings vs Knetz, Unggahan Mantan Suami Sherina Munaf Jadi Sorotan

"Seperti kata Joseph Nye, kekuatan hari ini bukan ditunjukkan dari kekuatan militer atau uang, tapi dengan attraction atau seni pertunjukan. Barack Obama juga mengingatkan bahwa bangsa yang dihormati adalah bangsa yang menimbulkan kekaguman," ujarnya.

Rhenald juga mengingatkan bahwa perseteruan ini bahkan bisa meruntuhkan soft power Korea Selatan. Ia menyebut sebuah negara bisa runtuh bukan karena budayanya, tetapi karena perilaku warganya sendiri.

"Jadi ini soal hirarki global. Dan kelihatannya, peta memang tengah berubah. Kalau tidak hati-hati, K-pop ini tentu akan mengalami keruntuhan," ucapnya.

"Soft power itu tidak menimbulkan keruntuhan, karena budayanya lemah. Tetapi karena perilaku dari warga negaranya sendiri," tandasnya.

Baca Juga: Sejumlah Influencer Korea Selatan Minta Maaf kepada Indonesia di Tengah Ramainya Perseteruan SEAblings vs Knetz, Tegaskan Rasisme Tak Bisa Dibenarkan

Pernyataan tersebut membuka ruang diskusi publik. Banyak warganet yang sepakat bahwa gelombang Korean Wave atau Hallyu selama ini membangun citra positif Korea Selatan lewat musik, drama, film, dan budaya populer.

Namun, di sisi lain, perilaku individu netizen Korea yang mengarah pada isu rasisme dan cenderung kurang menghormati negara lain di ruang digital, justru akan mencoreng citra baik tersebut.

Belakangan ini, sejumlah influencer Korea Selatan bahkan ikut terseret dalam pusaran konflik. Ada yang sampai trauma dan menangis setelah mendapat serangan saat live TikTok dari warganet Indonesia.

Baca Juga: Bikin Warganet Luluh, Grup Vokal Anak-Anak Korea Sampaikan Pesan Menyentuh Ini untuk Indonesia di Tengah Keributan SEAblings vs Knetz

Meski begitu, tak sedikit pula influencer dan konten kreator yang secara terbuka menyampaikan permintaan maaf. Mereka menegaskan bahwa rasisme tidak seharusnya terjadi dan komentar rasis tidak mewakili mayoritas masyarakat Korea.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Instagram @rhenald.kasali

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X