Minggu, 19 Juli 2026

Indra Lesmana Kritik Festival Berlabel Jazz Terlalu Pop, Benarkah Prambanan Jazz yang Disindir?

Photo Author
Iman Wildan Alaudy, Sketsa Nusantara
- Senin, 14 Juli 2025 | 16:38 WIB
Indra Lesmana mengkritik festival jazz yang tidak mengedepankan unsur jazz. (Tangkap layar unggahan akun Instagram Indra Lesmana)
Indra Lesmana mengkritik festival jazz yang tidak mengedepankan unsur jazz. (Tangkap layar unggahan akun Instagram Indra Lesmana)

Karena pendekatannya yang lintas genre, banyak yang menduga bahwa festival inilah yang tengah dikritik oleh Indra Lesmana, meskipun ia tidak menyebutkan secara langsung dalam unggahannya.

Tanggapan Santai dan Diplomatis dari Anas Syahrul Alimi

Menanggapi spekulasi publik, Anas Syahrul Alimi, pendiri sekaligus promotor utama Prambanan Jazz, memilih merespons dengan nada santai lewat unggahan Instagram:

Baca Juga: Disebut Datang Telat oleh MC Prambanan Jazz 2024, Indra Lesmana Buka Suara: Jangan Numbalin Artis

“Maafkan kami yang selalu bersalah setiap Juli.”

Di dalam unggahan yang sama, Anas menjelaskan lebih jauh bahwa konsep festival lintas genre bukanlah sebuah kekeliruan, melainkan bentuk keberanian merayakan kompleksitas musik.

“Di North Sea Jazz, Herbie Hancock berbagi panggung dengan John Legend. Di Montreux Jazz Festival, Prince dan Radiohead berbagi roh dengan Ella Fitzgerald,” ujarnya.

Anas juga mengutip semangat inklusif yang pernah diucapkan Miles Davis: “Jazz is the big umbrella.”

Menurut Anas, pendekatan ini justru menunjukkan bahwa jazz bukan genre eksklusif, melainkan ruang terbuka yang terus berevolusi, menyentuh puisi, hip-hop, pop, hingga teater. Festival seperti Prambanan Jazz, menurutnya, hanya mengikuti semangat itu: menjembatani tradisi dan perkembangan.

Festival Musik: Antara Esensi dan Komersialisasi

Pernyataan Indra Lesmana membuka diskusi lebih luas tentang dilema antara mempertahankan kemurnian genre musik dengan realitas pasar yang menuntut keragaman dan popularitas.

Di satu sisi, pelabelan “jazz” pada sebuah festival seharusnya merepresentasikan panggung yang mengutamakan musisi jazz dan memperkenalkan subgenre jazz kepada publik.

Namun di sisi lain, banyak promotor memilih format lintas genre demi menjangkau audiens yang lebih luas dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Pertanyaannya kini, apakah sebuah festival masih layak menyandang nama “jazz” apabila sebagian besar penampilnya berasal dari luar genre tersebut?

Ataukah justru pendekatan inklusif seperti Prambanan Jazz menjadi cara baru memperkenalkan jazz secara lebih terbuka kepada publik luas?

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X