Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa bersenang-senang dengan makan, minum, dan menikmati hidup diperbolehkan selama tidak disertai kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan tidak berangkat dari akidah yang rusak.
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya "Mafahim Yajibu an Tushahihah" juga menegaskan bahwa perayaan tahun baru termasuk tradisi budaya dan bukan ritual agama, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang disyariatkan atau disunahkan.
Sebagai tambahan, pandangan ini juga didukung oleh Imam Al-Haitami, yang menyebutkan bahwa ucapan selamat tahun baru hukumnya adalah mubah.
Hal ini bukan merupakan amalan sunnah, namun juga tidak dapat dikatakan sebagai bid'ah selama tidak menimbulkan keyakinan bahwa perayaan tersebut memiliki nilai ibadah.
Meski diperbolehkan, umat Muslim diingatkan untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum yang penuh manfaat.
Para ulama menyarankan umat muslim untuk mengisi malam pergantian tahun dengan kegiatan positif, seperti berkumpul bersama keluarga tanpa unsur kemaksiatan, bermuhasabah, atau mengevaluasi diri, lebih dianjurkan dalam Islam.
Ucapan syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diterima dan doa untuk memohon kekuatan menjalani tahun baru dengan lebih baik juga menjadi aktivitas yang sangat dianjurkan.
Hal tersebut seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, namun saat menyambut Tahun Baru Islam. Rasulullah memperbanyak dzikir dan membaca Al-Quran, serta melakukan shalat sunnah, hingga memperbanyak istighfar memohon ampunan sekaligus introspeksi diri dan berdoa untuk keberkahan menyambut tahun baru.
Sebagai umat Muslim, penting untuk menjadikan tahun baru sebagai momen untuk memperbaiki diri.
Beberapa ulama menegaskan bahwa pergantian tahun baru sebaiknya menjadi waktu refleksi diri. Mengingat nikmat Allah SWT, mengevaluasi amalan, dan bertekad untuk meningkatkan ketaatan adalah langkah yang lebih bermanfaat dibandingkan perayaan semata.
Kesimpulannya, hukum merayakan tahun baru dalam Islam adalah boleh selama tidak diiringi dengan kemaksiatan.
Namun, sudah sebaiknya umat Muslim menjadikan momen ini sebagai waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, bersyukur, dan memperbaiki kualitas ibadah.
Dengan demikian, tahun baru tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga menjadi momen bermakna dalam memperbaiki diri dan makin mendekatkan diri kepada Allah SWT.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!