Sifat haus ilmu Kyai Ali Manshur terlihat jelas pada perjuangannya saat ingin belajar ke Termas.
Pada saat itu, hanya bermodalkan sepeda ontel dan nasi jagung, ia pergi ke Termas dengan mengayuh sepedanya.
Di jalan, ia juga menerima jasa ojek dengan sepedanya dan uang yang didapatkannya ia pergunakan untuk membeli kitab.
Setelah rampung menimba ilmu di beberapa pesantren, Kyai Ali Manshur kembali ke Tuban.
Ia mulai aktif berorganisasi, Kyai Ali Manshur tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).
Kyai Ali Manshur menjadi pegawai di Kementerian Agama, awalnya ia menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di tingkat kecamatan, hingga mendapatkan promosi sebagai Kepala Kementerian Agama (Kemenag) di tingkat kabupaten.
Hingga di tahun 1955, ia dipercaya sebagai anggota Konstituante mewakili Partai NU Cabang Bali.
Di tahun 1962, Kyai Ali Manshur memutuskan untuk pindah ke Banyuwangi.
Di Banyuwangi inilah dirinya menjabat sebagai Ketua Cabang NU Banyuwangi sekaligus melahirkan Sholawat Badar.
Lahirnya Sholawat Badar ini bertepatan saat umat Islam Indonesia tengah menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sholawat Badar ini kemudian dipopulerkan ke berbagai daerah sebagai upaya untuk menandingi lagu hymne PKI “Genjer-genjer” sekaligus untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan PKI.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!