Bahkan karomah wali tersebut sudah terlihat sejak Gus Miek kecil.
Setelah besar, sikap dan penampilan Gus Miek juga cukup berbeda dari ulama pada umumnya.
Gus Miek lebih memilih memakai celana jeans dan kaos oblong saat sedang keluar.
Dan salah satu benda yang selalu ia kenakan adalah kacamata hitam.
Dikutip dari situs Pondok Pesantren Darunnajah, alasan Gus Miek selalu memakai kacamata hitam lantaran ia sering menangis saat melihat seseorang dengan ‘masa depan’ yang suram di akhirat kelak.
Dalam berdakwah, Gus Miek lebih suka mendatangi kelab malam dan tempat-tempat sejenisnya.
Pernah suatu ketika, ia masuk ke salah satu kelab malam di Surabaya yang dipenuhi perempuan-perempuan nakal.
Gus Miek lalu menepuk pundak salah satu pelayan minuman dan meniupkan asap rokok di wajah perempuan tersebut.
Baca Juga: 5 Simbol Rukun Islam dalam Pandawa, Bukti Kejeniusan Sunan Kalijaga dalam Dakwah Islam
Pelayan minuman itu langsung mundur hingga terbaring di kamar dengan rasa takut luar biasa. Setelah itu, perempuan tersebut tidak lagi bekerja di kelab malam itu.
Gus Miek juga berdakwah dengan cara mendirikan majlis dzikir yang dikenal dengan nama Jam’iyah Dzikrul Ghofilin.
Dalam majelis dzikir tersebut, Gus Miek mengajak para jamaah untuk mempersiapkan kebahagiaan akhirat dengan cara berdzikir.
Ulama berkaromah wali ini meninggal dunia pada 5 Juni 1993 di rumah sakit Budi Mulya, Surabaya dengan meninggalkan 2 orang istri.***