Menurut Ustadz Salim, ada dalil yang sangat kuat dari Al Quran sebagaimana dikisahkan dalam kisah dakwah Nabi Ibrahim.
Baca Juga: Makna 2 Buto atau Raksasa di Gunungan Wayang Kulit, Penjaga Gerbang Ketauhidan
Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim melakukan proses pencarian "Tuhan" kepada bulan, matahari, dan bintang.
Yang populer dari kisah tersebut adalah penggambaran bahwa Nabi Ibrahim mulanya menyembah bulan, tetapi ketika waktu berganti pagi, bulan menghilang.
Begitu juga saat siang, matahari menampakkan diri tetapi hilang di malam hari.
Sampai akhirnya Nabi Ibrahim merasa sangat yakin bahwa ada Allah SWT yang menciptakan semua benda-benda langit tersebut.
Kisah itu difirmankan dalam Surat Al An'am ayat 74 hingga 79.
Pada dasarnya, kisah tersebut tidak dapat dipahami secara harfiah karena kenyataannya Nabi Ibrahim tak pernah menyembah benda-benda tersebut.
Justru itu merupakan kisah penggambaran dari dakwah Nabi Ibrahim kepada para penyembah bulan, matahari, dan bintang.
Penggambaran tersebut merupakan cara penggunaan kisah untuk memudahkan dipahami oleh masyarakat awam.
"Dari dalil itu, kita simpulkan para Wali kemudian berani, oh ini cerita Mahabharata dan Ramayana ini tinggal dihilangkan bagian-bagian yang tidak sesuai syariat Islam," lanjutnya.
Misalnya, dalam cerita Mahabharata yang asli, dikisahkan bahwa Dewi Drupadi melakukan poliandri alias bersuamikan 5 orang.
Namun, setelah diadaptasikan ke dalam wayang kulit oleh Sunan Kalijaga, Dewi Drupadi hanya bersuamikan Puntadewa karena dalam ajaran Islam tidak mengenal adanya Poliandri.