SketsaNusantara.id - Sampai hari ini masih ada saja perselisihan pendapat mengenai wayang kulit sebagai produk ajaran Islam di Nusantara dan pengaruh keyakinan lama yang mempengaruhinya.
Bahkan, ada yang sampai menganggap bahwa wayang kulit yang dibawakan Wali Songo itu adalah perbuatan syirik karena menggunakan kisah-kisah dari ajaran Hindu.
Sebagai tradisi seni budaya dalam pertunjukkan, kisah wayang memang disebutkan berasal dari zaman pra-Islam.
Namun, apa benar bahwa penggunaan wayang kulit sebagai metode dakwah itu menyimpang dari syariat Islam?
Para Wali Songo sebelumnya telah merumuskan cara seperti apa untuk memasifkan dakwah Islam dengan cara yang damai dan toleransi alias penuh keakraban kepada masyarakat Jawa.
Mereka memikirkan bentuk atau cara dakwah seperti apa yang bisa dijadikan wasilah.
Waktu itu, Sunan Kalijaga mengusulkan penggunaan wayang kulit.
Alasannya, wayang saat itu sudah sangat populer di masyarakat Jawa. Dengan memasukkan pemaknaan-pemaknaan baru dalam wayang kulit, akan lebih mudah untuk menyampaikan isi ajaran Islam.
"Apa yang sudah ada kemudian dimodifikasi agar bisa mewakili syiar-syiar Islam tanpa kemudian menghilangkan nilai-nilai adiluhung yang sudah diyakini masyarakat Jawa," ujar Ustadz Salim A. Fillah, dikutip SketsaNusantara.id dari video Youtube Salim A. Fillah, diunggah 6 November 2020.
Tentu saja saat itu ada penolakan kepada usulan tersebut, bahkan dari internal Wali Songo.
Alasannya karena sumber cerita dari wayang itu adalah Mahabharata dan Ramayana yang notabene berasal dari ajaran Hindu.