SketsaNusantara.id - Gunungan atau Kayon dalam wayang kulit memiliki simbol-simbol khas yang diguratkan oleh Sunan Kalijaga demi syiar Islam yang penuh toleransi ke masyarakat Jawa.
Gunungan tersebut ukurannya lebih besar dari rata-rata wayang kulit yang digunakan dalam sebuah lakon.
Selain dipakai sebagai pembuka dan penutup cerita, Gunungan juga kerap digunakan dalang untuk memberikan kesan dramatis pada adegan tertentu.
Bentuknya mengerucut ke atas adalah simbol kehidupan manusia yang harus selalu menyatu pada jiwanya seiring pertambahan usia.
Ada pula yang menafsirkan bentuk mengerucut ke atas itu mirip dengan kubah masjid, dan ketika dibalik menjadi wujud jantung manusia. Maknanya adalah mengingatkan agar setiap umat Islam mesti menempatkan jantung atau hatinya pada masjid.
Ilustrasi di Gunungan juga sangat mencolok, terutama pada sosok 2 buto alias raksasa yang menjaga sebuah bangunan megah.
Baca Juga: Makna Gunungan atau Kayon dalam Wayang Kulit, Bentuknya seperti Masjid dan jika Dibalik Berwujud...
Dua raksasa itu bernama Cingkolo Bolo dan Bolo Upoto yang masing-masing melambangkan kebaikan dan keburukan dalam kehidupan.
Namun, ada penafsiran yang mendalam dari makna 2 buto di Gunungan tersebut.
Ustadz Faizar menyiratkan bahwa kedua raksasa itu merupakan simbol dari para penjaga ketauhidan.
Penggunaan karakter buto merupakan hasil permainan kata dan simbol dalam bahasa Jawa.