religi

Beginilah Cara Orang Jawa Berkomunikasi tanpa Timbulkan Konflik, Jadi Metode Dakwah Islam lewat Wayang Kulit

Senin, 15 Juli 2024 | 15:07 WIB
Ilustrasi wayang kulit dan penggunaan cara komunikasi orang Jawa tanpa konflik. (Freepik/pikisuperstar)

Designed by pikisuperstar / Freepik" data-credit="" data-watermark="0" />

SketsaNusantara.id - Dakwah Islam di masa Wali Songo dikenal oleh masyarakat zaman sekarang melalui beragam tradisi dan produk budaya, misalnya wayang kulit.

Wayang kulit diakui sebagai karya seni tingkat tinggi alias adiluhung dengan karakteristik yang sangat khas.

Harus diakui bahwa penyebaran dan perkembangan Islam di Nusantara tak lepas dari metode dakwah yang salah satunya memakai wayang kulit.

Baca Juga: Makna Gunungan atau Kayon dalam Wayang Kulit, Bentuknya seperti Masjid dan jika Dibalik Berwujud...

Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh penting di balik penggunaan wayang kulit sebagai media syiar Islam di masanya.

Ide brilian Sunan Kalijaga ialah memasukkan unsur-unsur Islam dalam pewayangan secara bertahap, tetapi dengan tetap menggunakan pakem cerita yang berasal dari unsur Hindu-Budha.

Sehingga, terjadi proses akulturasi antara budaya lama dan baru, yakni ajaran Islam, dengan wujud wayang kulit purwa yang dikenal sekarang ini.

Baca Juga: Jamus Kalimosodo Senjata Ampuh Puntadewa, Warisan Dakwah Sunan Kalijaga di Wayang Kulit, Jimat Paling Ampuh untuk Manusia

Selain itu, ada faktor penting lain yang mempengaruhi keberhasilan metode dakwah Islam menggunakan wayang kulit.

Faktor tersebut ialah penggunaan cara atau gaya orang Jawa berkomunikasi.

Dilansir SketsaNusantara.id dari karya penelitian Otok Herum Marwoto berjudul NILAI NILAI ISLAM PADA WAYANG KULIT, MENJADIKAN PERAN PENTING DALAM PERKEMBANGAN SENI ISLAMI DI INDONESIA yang dimuat dalam CORAK Jurnal Seni Kriya Vol. 3 No.1, Mei-Oktober 2014, metode yang dimaksud adalah sanepan alias perumpamaan.

Masyarakat Jawa rata-rata punya kecenderungan menyampaikan sesuatu secara tidak langsung melalui simbol alias sanepan atau sindiran.

Bahkan, gaya bahasa semacam itu telah mengakar begitu dalam di kehidupan masyarakat Jawa.

Baca Juga: Sunan Kalijaga Sukses Syiarkan Islam di Jawa Lewat Tokoh Punakawan, Mau Nanggap Wayang Cukup Bayar Dua Kalimat Syahadat

Halaman:

Tags

Terkini