SketsaNusantara.id - Bedhug dan kentongan merupakan sepasang alat yang akrab dengan masyarakat Islam di Nusantara, terutama di Pulau Jawa.
Pasalnya, kedua alat tersebut identik sebagai media pemanggil sholat bagi masyarakat sekitar masjid sebelum dikumandangkannya azan.
Bedhug merupakan gendang besar yang biasanya dibuat dari selaput kulit kambing dan sapi. Sedangkan kentongan merupakan alat pukul dari kayu dengan bunyi yang sangat nyaring.
Saat ini kehadiran dua alat tersebut memang sudah nyaris tertelan kemajuan zaman, apalagi dengan teknologi pengeras suara yang makin modern.
Namun, bagi yang mengalami masa kecil di wilayah pedesaan Jawa, terutama di era 90-an, pastinya masih mengalami masa-masa unik dari metode pemanggilan orang untuk berangkat ke masjid itu.
Yang jelas, bedhug bukanlah bagian dari tradisi Islam yang dibawa dari Timur Tengah. Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Atlas Wali Songo (2014), KH Agus Sunyoto menyebut bedhug sebagai usaha "membumikan" Islam.
Bedhug adalah hasil tradisi keagamaan setempat yang sebelumnya tidak terdapat dalam ajaran Islam.
Di masa dakwah Wali Songo, bedhug dimanfaatkan sebagai hasil adaptasi dari tambur tengara untuk sembahyang di sanggar Kapitayan atau vihara umat Buddha.
Justru penggunaan alat tersebut berhasil menarik perhatian warga untuk segera pergi ke masjid menunaikan ibadah karena metode yang dipakai sangat akrab dengan kepercayaan sebelumnya.
Bedhug dan kentongan pun menjadi salah satu bukti keberhasilan dakwah Islam di Nusantara secara damai tanpa meninggalkan substansi atau melanggar fikih.
Wajar jika di masa lalu, nyaris setiap masjid atau mushola di wilayah Nusantara memiliki sepasang bedhug dan kentongan.