Cara yang satu ini yakni dengan cara bijaksana dan tidak memaksa.
Sunan Muria tidak melarang tradisi adat seperti kenduren, peringatan telung dino, dan suhu dino, tetapi justru memasukkan nilai-nilai Islam dalam tradisi tersebut.
Selain itu, Sunan Muria juga mempertahankan alat musik tradisional seperti gamelan dan kesenian wayang sebagai media dakwah.
Beberapa lakon pewayangan diubah karakternya untuk membawa pesan-pesan Islam, seperti kisah Dewaruci, Petruk Dadi Ratu, dan Semar Mbarang Jantur.
Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang macapat Jawa yang mengandung ajaran Islam, seperti tembang Sinom dan Kinanti.
Melalui tembang-tembang ini, masyarakat dengan mudah menerima dan mengingat ajaran Islam yang terkandung di dalamnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di puncak Gunung Muria, tepat di belakang masjid yang dibangunnya sendiri, Sunan Muria mendirikan pesantren.
Tempat ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama tetapi juga menjadi saksi bisu dedikasi Sunan Muria dalam menyebarkan Islam di tengah masyarakat pegunungan.
Dengan pendekatan yang penuh kearifan dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat, Sunan Muria tidak hanya berhasil menyebarkan agama Islam, tetapi juga memperkaya budaya lokal dengan nilai-nilai Islam.
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang dalam menjalankan dakwah dengan cara yang bijaksana dan penuh kasih.***