Diawali dengan mendirikan masjid. Alih-alih langsung mengajarkan Islam, Sunan Bonang memilih membunyikan gamelan dan melantunkan tembang atau lagu.
Salah satu gamelan bernama bonang, sehingga salah satu versi menyebutkan menjadi ikhwal sebutan Sunan Bonang disematkan kepada beliau.
Tentu saja, masyarakat Jawa akhirnya berbondong-bondong datang ke masjid, begitu mengetahui adanya lantunan gamelan dan tembang.
Hal ini laras dengan kebiasaan masyarakat Jawa, memiliki jiwa jawi yang salah satunya sangat menyukai musik.
Namun Sunan Bonang mensyaratkan siapa saja yang mau masuk ke masjid wajib mencuci kaki terlebih dahulu, yang dimaknai sebagai berwudhu.
Selanjutnya, secara perlahan Sunan Bonang memperkenalkan Islam melalui gamelan dan tembang, dengan mengajak bersahadat dan mengajarkan cara sholat.
Karena kecerdikan Sunan Bonang inilah, masyarakat dengan suka rela memeluk Agama Islam dan memiliki cinta mendalam kepada salah satu Wali Songo tersebut.
Baca Juga: Kisah Wali Songo: Kesaktian Sunan Bonang Taklukkan Brahmana Sakyakirti dari India pada Agama Islam
Jenazahnya Menjadi Rebutan
Yang menarik, Labib MZ dalam bukunya Kisah Kehidupan Walisongo menyebutkan bahwa di akhir hayat sang Walisongo tersebut, jenazahnya menjadi rebutan para muridnya.
Saat itu, diceritakan bahwa kebanyakan murid Sunan Bonang berasal dari Madura dan Kepulauan Bawean.
Mereka berebut jenazah Sunan Bonang, karena rasa cintanya yang mendalam kepada guru yang sudah mengajarinya Agama Islam.
Baca Juga: 6000 Meter dari Pusat Kota Pati, Sunan Bonang Pernah Murka dan Wariskan Kisah Legenda Tongkat Sakti