Tak hanya itu, Sunan Kalijaga juga merevolusi bentuk wayang yang saat itu masih berupa wayang beber yang ditampilkan dalam wujud bentangan kain atau kertas.
Sunan Kalijaga mengusulkan untuk membuat gambar per karakter, bukan perkisah seperti wayang beber.
Karakter pada wayang-wayang itu nantinya tidak berbentuk seperti manusia melainkan berdasarkan watak.
Misalnya ksatria digambarkan perutnya pasti langsing, kecil dan rajin puasa.
Ditambah lagi, cerita dalam wayang bisa disesuaikan seperti misalnya desakralisasi dewa yang dianggap tidak bisa salah namun kini bisa ditegur oleh manusia.
Ide brilian tersebut membuat wayang yang dulunya merupakan hiburan para bangsawan kini bisa dinikmati oleh semua kalangan sekaligus menjadi salah satu alat dakwah agama Islam.***