SketsaNusantara.id - Islam sudah ada di negara Asia Tenggara sejak awal masa Islam yaitu masa Khalifah ketiga Utsman bin Affan.
Setidaknya pada abad ke-9 sudah ada ribuan pedagang muslim di Canton, kontak-kontak antara Cina dan dunia Islam itu sudah terpelihara.
Terutama lewat jalur laut melalui perairan Indonesia antara tahun 904 masehi dan pertengahan abad ke-12.
Pada tahun 1282 Raja Samudra di Sumatera bagian utara mengirim dua utusan bernama Arab ke Cina, namun berita-berita itu tidak praktis menunjukkan bukti bahwa kerajaan-kerajaan Islam lokal telah berdiri.
Dan tidak pula menunjukkan bahwa telah terjadi perpindahan agama dari penduduk lokal dalam tingkat yang cukup besar.
Menurut catatan Ma Huan yang ikut dalam muhibah ke-7 Cheng Ho ke Jawa yang berlangsung antara tahun 1431 sampai 1433 masehi diketahui bahwa penduduk pribumi masih belum memeluk Islam.
Dalam sejarah historiografi lokal ada catatan bahwa keberadaan tokoh-tokoh beragama Islam pra Walisongo secara sepintas dalam kisah-kisah masih bersifat legenda.
Namun belum terdapat sumber-sumber yang menjelaskan adanya sebuah Gerakan dakwah Islam yang bersifat pasif dan teristematisasi.
Baru setelah kisah dari Sunan Ampel dan juga Raja Pandhita di kabarkan datang ke Majapahit jaringan kekerabatan tokoh penyebar dakwah Islam di Surabaya dan Gresik.
Hal itu dapat diketahui sebagai jaringan pusat-pusat kekuatan atau center power dari dakwah Islam di suatu tempat tertentu.
Bahkan melalui jaringan gerakan dakwah Islam yang kemudian muncul sebagai suatu lembaga yang disebut Wali Songo.
Kemudian muncul kekuatan politik dalam bentuk kekuasaan Kerajaan Demak, Cirebon, dan disusul Banjarmasin, Pontianak, Gowa,Tallo, Ternate,Tidore, Tual, Sumbawa, yang mendorong tumbuhnya kota-kota bercorak Islam di pesisir.