SketsaNusantara.id - Sunan Bonang adalah sunan Putra Sunan Ampel yang dari pernikahan dengan Nyai Ageng Manila Putri Arya Teja Bupati Tuban.
Sunan Bonang dikenal sebagai tokoh Walisongo yang ulung dalam berdakwah serta menguasai ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan berbagai ilmu kesaktian dan kedigdayaan lainnya.
Dakwah awal yang dilakukan oleh Sunan Bonang dilakukan di daerah Kediri, Kediri menjadi pusat ajaran Bhairawa Tantra dengan membangun masjid di singkal yang terletak di sebelah barat Kediri.
Sunan Bonang mengembangkan dakwah Islam di pedalaman yang sebagian masyarakatnya masih menganut kepercayaan Tantrayana.
Kepercayaan Tantrayana adalah kepercayaan yang berhubungan dengan masalah-masalah gaib dan bersifat mistik.
Namun, setelah meninggalkan Kediri Sunan Bonang berdakwah di Lasem, yang kemudian Sunan Bonang dikenal dengan seorang Wali yang melakukan dakwah Islam melalui wayang, tasawuf, tembang, dan sastra sufistik.
Dalam karya sastra sufistik yang sangat terkenal dan juga tersohor dari Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil.
Suluk Wujil adalah penggambaran kehidupan budaya intelektual dan keagamaan di Jawa Timur yang sedang pada masa transisi religiusitas dari kepercayaan Hindu menuju kepercayaan Islam.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Atlas Walisongo karya Agus Sunyoto inilah cerita tentang karya Suluk Wujil Sunan Bonang yang sangat tersohor itu.
Sunan Bonang dalam dakwahnya diketahui telah menjalankan pendekatan yang lebih mengarah kepada sifat seni dan budaya.
Sebagaimana hal yang serupa dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang tidak lain adalah muridnya.
Selain dikenal sering berdakwah dengan menjadi dalang yang memainkan wayang, Sunan Bonang juga sangat pintar mengubah tembang-tembang macapat.