religi

Mengenal Kyai Ali Manshur, Ulama Asal Tuban di Balik Lahirnya Sholawat Badar

Minggu, 29 Maret 2026 | 16:58 WIB
Kyai Ali Manshur, Ulama pencipta Sholawat Badar (iainutuhan.ac.id)

SketsaNusantara.id - Nama Ali Manshur menjadi sosok penting dalam sejarah perkembangan tradisi keislaman di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia dikenal luas sebagai pencipta Sholawat Badar, sebuah lantunan sholawat yang hingga kini masih sering dibaca dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Sholawat Badar sendiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari amaliyah warga Nahdlatul Ulama. Lantunan ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga sarat makna historis yang berkaitan dengan dinamika sosial-politik Indonesia pada masanya.

Dilansir SketsaNusantara.id dari iainutuban.ac.id, Kyai Ali Manshur lahir di Jember pada 23 Maret 1921 dari keluarga ulama. Ia merupakan putra dari KH Manshur bin KH Shiddiq dan Sofiyah binti KH Basyar. Dari garis keturunan keluarganya, ia terhubung dengan sejumlah ulama besar di Nusantara, termasuk tokoh-tokoh berpengaruh di lingkungan pesantren.

Baca Juga: Baca Ini 17 Kali! Amalan Sederhana Rahasia Ketenangan Hati di Tengah Masalah yang Melanda

Dalam perjalanan intelektualnya, Kyai Ali Manshur dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Sejak muda, ia telah berkelana ke berbagai pesantren untuk memperdalam pengetahuan agama. Beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat belajarnya antara lain Pesantren Termas Pacitan, pesantren di Lasem, Pesantren Tebuireng Jombang, serta Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Selama menimba ilmu, ia menunjukkan kemampuan menonjol di bidang sastra Arab, khususnya ilmu ‘Arudh dan Qawafi, yang berkaitan dengan penyusunan syair. Kemampuan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam lahirnya Sholawat Badar.

Perjuangan Kyai Ali Manshur dalam mencari ilmu juga penuh dengan keterbatasan. Dikisahkan, ia pernah menempuh perjalanan jauh menuju pesantren hanya dengan berbekal sepeda ontel dan makanan sederhana. Bahkan, di tengah perjalanan, ia sempat mencari tambahan biaya dengan menawarkan jasa ojek sepeda untuk membeli kitab.

Baca Juga: Terlilit Hutang? Ini Doa dan Amalan dari Ustadz Adi Hidayat agar Cepat Lunas dan Diberi Jalan Keluar

Setelah menyelesaikan pendidikan di berbagai pesantren, ia kembali ke daerah asalnya dan mulai aktif dalam kegiatan sosial serta organisasi. Kyai Ali Manshur pernah tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan juga berkarier di lingkungan Kementerian Agama.

Kariernya di pemerintahan dimulai dari posisi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di tingkat kecamatan hingga dipercaya menjadi Kepala Kementerian Agama di tingkat kabupaten. Selain itu, pada tahun 1955, ia juga menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NU Cabang Bali.

Perjalanan hidupnya kemudian membawanya ke Banyuwangi pada tahun 1962. Di daerah inilah Kyai Ali Manshur menjabat sebagai Ketua Cabang NU sekaligus menciptakan Sholawat Badar.

Baca Juga: Mengenal Sunan Muria, Wali Songo dengan Tradisi Guyang Cekathak dan Karomah Pelana Kuda yang Melegenda

Lahirnya Sholawat Badar tidak lepas dari konteks sosial-politik saat itu, ketika Indonesia tengah menghadapi ketegangan ideologi, khususnya terkait Partai Komunis Indonesia. Sholawat tersebut menjadi simbol semangat spiritual sekaligus alat pemersatu umat Islam.

Dalam perkembangannya, Sholawat Badar dipopulerkan secara luas sebagai bentuk penguatan identitas keagamaan dan respon terhadap situasi yang berkembang saat itu. Lantunan ini juga menjadi media dakwah yang efektif karena mudah diingat dan sarat pesan religius.

Halaman:

Tags

Terkini