religi

Main TikTok dan Instagram Seharian saat Puasa, Tidak Batal Tapi Bisa Merugi Besar? Ini Alasannya

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi hukum main Tiktok seharian saat puasa Ramadhan. (Pexels/cottonbro studio)

SketsaNusantara.id - Aktivitas scrolling TikTok dan Instagram seharian saat puasa kini semakin menjadi kebiasaan banyak orang.

Ponsel nyaris tidak lepas dari genggaman sejak pagi hingga menjelang berbuka.

Fenomena ini kerap terjadi di tengah upaya menahan lapar dan haus. Media sosial menjadi pelarian untuk mengusir bosan dan mengalihkan rasa lemas.

Baca Juga: Rekomendasi Takjil Sehat untuk Bulan Ramadhan, Tetap Lezat untuk Berbuka Puasa

Namun, kebiasaan tersebut memunculkan pertanyaan penting di kalangan umat Islam. Apakah scrolling tanpa henti saat puasa dibenarkan secara syariat.

Dikutip dari nu.or.id, dalam perspektif fikih, scrolling media sosial tidak membatalkan puasa. Batalnya puasa hanya terjadi jika seseorang makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan lainnya.

Meski demikian, keabsahan hukum tidak selalu sejalan dengan kualitas pahala. Puasa memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih luas dari sekadar menahan lapar.

Baca Juga: Kata-Kata Mutiara Menyambut Malam Lailatul Qadar di Ramadhan 1447 Hijriah, Bagikan Sebelum 10 Hari Akhir Puasa

Banyak orang mampu berpuasa secara fisik, tetapi gagal menjaga perilaku dan lisannya. Akibatnya, nilai ibadah yang seharusnya tinggi justru berkurang.

Rasulullah SAW telah mengingatkan kondisi tersebut dalam sabdanya:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Hadits ini menggambarkan bahwa pahala puasa tidak otomatis diperoleh. Perilaku, niat, dan pengendalian diri menjadi faktor penentu utama.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama hanya menahan makan dan minum.

Tingkatan kedua meliputi penjagaan pendengaran, penglihatan, dan lisan dari maksiat. Tingkatan tertinggi adalah menjaga hati dari kesibukan dunia berlebihan.

Pembagian tersebut menegaskan bahwa kualitas puasa berkaitan erat dengan kontrol diri. Aktivitas scrolling tanpa tujuan dapat menggeser fokus ibadah.

Halaman:

Tags

Terkini