SketsaNusantara.id - Puasa sering dipahami sebagai menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Banyak orang fokus pada waktu sahur dan berbuka. Namun, makna puasa sejatinya jauh melampaui sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Dalam ajaran Islam, puasa merupakan ibadah yang sarat nilai spiritual. Ia menuntut keikhlasan, kesabaran, dan pengendalian diri. Tanpa ketiga hal tersebut, puasa berpotensi kehilangan maknanya.
Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan tegas mengenai hal ini.
Dalam sebuah hadis, beliau menyebutkan bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh pahala. Mereka hanya merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari.
Dikutip dari Kemenag.go.id, Rasulullah bersabda, "Betapa banyak orang yang puasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar, dan dahaga." (HR. An Nasa'i dan Ibnu Majjah). Peringatan ini menunjukkan bahwa puasa tidak otomatis bernilai ibadah.
Hadis tersebut mengisyaratkan adanya syarat penting agar puasa diterima. Salah satu syarat utama adalah keikhlasan. Puasa harus dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena kebiasaan, tekanan sosial, atau sekadar rutinitas tahunan.
Orang yang berpuasa tanpa keikhlasan berisiko kehilangan keutamaan ibadah. Aktivitas menahan lapar dan haus tetap dijalani. Namun, nilai spiritual yang seharusnya menyertainya tidak tercapai.
Ikhlas menjadi inti dari seluruh amal ibadah. Tanpa niat yang benar, amal tidak bernilai di sisi Allah. Prinsip ini berlaku pula dalam ibadah puasa.
Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan keutamaan puasa yang didasari iman dan keikhlasan. Beliau menyebutkan bahwa puasa yang dilakukan dengan niat tulus akan mendatangkan ampunan dosa. Hadis ini menegaskan bahwa kualitas puasa ditentukan oleh niat pelakunya.
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘Alaih). Hadis ini menempatkan iman dan keikhlasan sebagai fondasi utama ibadah puasa.
Makna iman dalam konteks ini adalah keyakinan penuh terhadap perintah Allah. Sementara itu, mengharap pahala berarti melakukan puasa dengan orientasi akhirat. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam membentuk kualitas ibadah.
Puasa yang dilandasi iman mendorong seseorang menjaga sikap dan perilaku. Ia tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan amarah, hawa nafsu, dan ucapan yang tidak pantas. Pengendalian diri menjadi bagian tak terpisahkan dari puasa.