Hadis tersebut memberikan solusi praktis. Ketika seseorang diajak bertengkar, cukup mengatakan bahwa dirinya sedang berpuasa. Kalimat sederhana ini menjadi pengingat sekaligus benteng emosional.
Dengan cara itu, potensi konflik dapat diredam. Energi tidak habis untuk emosi negatif. Fokus ibadah tetap terjaga hingga waktu berbuka tiba.
Menjaga lisan selama puasa bukan perkara mudah. Lingkungan sosial, tekanan kerja, dan dinamika keluarga kerap memancing emosi. Namun, kesadaran akan nilai puasa dapat menjadi kontrol utama.
Puasa mengajarkan disiplin, kesabaran, dan pengendalian diri. Ketiganya tidak mungkin tercapai tanpa menjaga ucapan. Oleh karena itu, menghindari rafats menjadi kunci agar puasa tetap bernilai.
Dengan menahan lisan, seseorang tidak hanya menjaga pahala. Ia juga menjaga ketenangan batin. Puasa pun menjadi sarana pembersihan jiwa, bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!