SketsaNusantara.id - Pelaksanaan salat tarawih menjadi salah satu ibadah yang identik dengan bulan Ramadhan. Di banyak masjid, tarawih dilaksanakan dengan jumlah 23 rakaat lengkap dengan witir. Dalam praktiknya, bilal memiliki peran penting dalam mengatur bacaan dan irama ibadah.
Bilal tidak hanya berfungsi sebagai pengatur jeda salat. Ia juga memimpin bacaan tertentu yang dibaca secara jahr. Karena itu, bacaan bilal tarawih memiliki susunan yang baku dan dikenal luas di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Menjelang Ramadhan, panduan bacaan bilal tarawih 23 rakaat dan witir kembali banyak dicari.
Kebutuhan ini muncul seiring persiapan masjid dan musala dalam menyelenggarakan ibadah secara tertib dan seragam.
Salah satu rujukan yang banyak digunakan adalah panduan bacaan bilal tarawih yang dipublikasikan NU.
Panduan ini memuat bacaan lengkap dalam tulisan Arab beserta transliterasi Latin. Susunannya disesuaikan dengan praktik tarawih 23 rakaat yang lazim dilakukan.
Dalam panduan tersebut dijelaskan bahwa bacaan bilal dibaca pada setiap pergantian dua rakaat. Bacaan ini berfungsi sebagai penanda jeda salat sekaligus pengingat jamaah. Setiap lafaz disusun agar mudah diikuti dan dilantunkan bersama.
Selain tarawih, bacaan bilal juga disertakan untuk salat witir. Witir menjadi penutup rangkaian tarawih yang dilaksanakan tiga rakaat.
Dalam praktiknya, bacaan bilal witir memiliki susunan tersendiri yang berbeda dengan tarawih.
Panduan dari NU menyajikan bacaan witir secara lengkap dan sistematis. Bacaan tersebut ditulis dalam huruf Arab untuk menjaga keaslian lafaz.
Transliterasi Latin disertakan agar mudah dibaca oleh jamaah yang belum lancar membaca Arab.
Keberadaan panduan ini membantu bilal menjalankan tugasnya dengan tertib. Jamaah juga dapat mengikuti bacaan dengan lebih khusyuk.