SketsaNusantara.id - Niat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan puasa. Tanpa niat, ibadah puasa tidak dinilai sah.
Oleh sebab itu, pembahasan tentang niat puasa selalu menarik perhatian umat Muslim.
Di tengah pelaksanaan ibadah Ramadhan, pertanyaan soal niat sering muncul. Terutama terkait waktu berniat dan frekuensinya.
Perbedaan penjelasan di masyarakat membuat topik ini terus dibicarakan dan tidak sedikit orang yang merasa ragu-ragu.
Dalam fikih Islam, niat termasuk rukun puasa. Artinya, niat wajib dilakukan sebelum menjalankan puasa. Namun, tata caranya tidak selalu sama antara puasa wajib dan puasa sunnah.
Nah, berikut ini penjelasan mengenai niat puasa Ramadhan yang dilansir SketsaNusantara.id dari mui.or.id.
Puasa wajib mencakup puasa Ramadhan, qadha, dan nazar. Untuk jenis puasa ini, niat harus dilakukan pada malam hari. Niat dilakukan sebelum terbit fajar.
Berbeda dengan puasa sunnah. Dalam puasa sunnah, niat masih boleh dilakukan di siang hari. Ketentuan ini berlaku selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap malam. Niat tidak bisa digabungkan untuk beberapa hari sekaligus. Setiap hari dianggap ibadah yang berdiri sendiri.
Penjelasan tersebut merujuk pada pendapat ulama Mazhab Syafi’i. Salah satunya dijelaskan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi. Ia menegaskan kewajiban berniat di malam hari untuk puasa wajib.
Berbeda dengan Mazhab Maliki. Dalam pandangan ini, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan sekali. Niat dilakukan pada malam pertama Ramadhan untuk sebulan penuh.
Mazhab Maliki memandang puasa Ramadhan sebagai satu rangkaian ibadah. Karena itu, niat tidak perlu diperbarui setiap malam. Pendapat ini juga banyak dijadikan rujukan.