SketsaNusantara.id– Hari ini, tanggal 23 Januari, masyarakat Jember dan warga Nahdliyin di seluruh nusantara memperingati haul salah satu ulama besar yang pernah dimiliki bangsa ini, KH Achmad Siddiq. Beliau bukan sekadar tokoh lokal, melainkan figur sentral yang pernah menjabat sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dalam sejarah perkembangan Islam di nusantara, Kyai Achmad Siddiq dikenal sebagai ulama yang menyejukkan. Salah satu warisan spiritual beliau yang hingga kini menjadi gaya hidup (lifestyle) religius ribuan umat Muslim adalah Dzikrul Ghofilin.
Dilansir SketsaNusantara.id pada penelitian skripsi berjudul "K.H. Achmad Siddiq; Aktivitas dan Pemikiran Keagamaannya" karya Ahmad Mufid (UIN Sunan Kalijaga, 2016), Kyai Achmad Siddiq disebut sebagai "Sesepuh Dzikrul Ghofilin".
Majelis dzikir ini dirancang khusus sebagai "pengingat bagi mereka yang lupa" (Ghofilin), mengajak masyarakat untuk menyeimbangkan kehidupan duniawi dengan ketenangan batin melalui dzikir kepada Allah swt.
Selain aspek spiritual, riset tersebut juga menyoroti peran strategis Kyai Achmad Siddiq dalam meletakkan dasar-dasar pemikiran kebangsaan di tubuh NU. Beliau dikenal sebagai tokoh kunci penerimaan asas tunggal Pancasila oleh NU pada Muktamar Situbondo 1984, serta penggerak kembalinya NU ke Khittah 1926.
Bagi Kiyai Achmad Siddiq, ukhuwah (persaudaraan) tidak hanya terbatas pada sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah), tetapi juga persaudaraan sesama anak bangsa (ukhuwah wathaniyah) dan sesama manusia (ukhuwah basyariyah).
Peringatan haul beliau hari ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Dzikrul Ghofilin di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering membuat manusia lupa akan tujuan hakikinya. Ketenangan jiwa yang diajarkan beliau menjadi solusi relevan bagi kesehatan mental masyarakat masa kini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!