Dalam ayat tersebut, jalan yang lurus tidak berdiri sendiri. Jalan itu dikaitkan dengan orang-orang yang telah diberi nikmat.
Penjelasan ini menjadi dasar penting dalam memahami ibadah.
Menurut Gus Baha, keberagamaan tidak lepas dari teladan. Proses meniru menjadi bagian dari pembelajaran. Hal itu berlaku dalam memahami puasa dan ibadah lainnya.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar. Ramadhan juga menjadi waktu memperdalam ilmu. Tradisi mengaji menjadi sarana utamanya.
Melalui aktivitas mengaji dan pembacaan kitab, pesantren menjaga kesinambungan ilmu. Ramadhan dimanfaatkan sebagai momentum penguatan tradisi tersebut. Praktik ini terus berlangsung hingga kini.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!