“Kalau ada guru yang kaya, itu agak aneh,” candanya dalam bahasa Jawa, “Enek guru kok sugeh, biasane mlincuran,” candanya.
Meski demikian, dirinya menjelaskan bahwa kiai dan guru sama-sama memiliki peran mulia, walaupun berbeda. “Kiai boleh menjadi guru, tapi guru belum tentu bisa menjadi kiai,” ujarnya.
KH Hamdi menambahkan, seorang kiai walaupun hidup sederhana tetap mampu menghidupi santrinya. “Ulama itu pewaris para nabi. Nabi sendiri disebut miskin karena tidak punya stok makanan di rumah, tapi beliau bisa menanggung hidup dua ratus santri yang disebut ashabus suffah,” pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!