Amalan kedua adalah membaca:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ
Dzikir ini dilakukan 100 kali dalam sehari semalam. Artinya:
“Tiada Tuhan selain Allah, Raja yang Hak dan Nyata.”
Dalam ijazah yang disampaikan, Habib Umar bin Hafidz berpesan,
“Apabila engkau istiqomah merutinkan dzikir yang 10 kali setelah salat Magrib dan Subuh serta membaca dzikir 100 kali itu, maka insyaallah kalian akan meraih hakikat yang terkandung dalam kalimat Laa ilaha illallah dan engkau meraih kalimat ini saat-saat kematianmu.”
Pesan tersebut menunjukkan hubungan erat antara istiqamah dalam dzikir dan anugerah khusnul khatimah.
Dengan terus mengingat Allah, hati menjadi bersih, dan lisan terbiasa menyebut nama-Nya hingga akhir hayat.
Makna Spiritualitas Dzikir dalam Kehidupan
Dalam ajaran para ulama, dzikir bukan hanya rutinitas ibadah, tetapi latihan jiwa. Kalimat “Laa ilaha illallah” adalah inti dari seluruh ibadah.
Kalimat ini menegaskan bahwa tidak ada kekuatan dan tempat bergantung selain Allah.
Ketika dibaca dengan penuh kesadaran, dzikir mampu menenangkan hati, menolak rasa gelisah, dan menumbuhkan rasa syukur.
Dzikir juga menjadi perisai spiritual bagi seseorang di tengah kesibukan dunia modern yang sering mengikis ketenangan batin.
Jalan Menuju Hakikat Tauhid
Kedua ijazah dzikir ini mengajarkan pentingnya kesungguhan dan konsistensi. Amalan yang ringan namun dilakukan terus-menerus akan melahirkan ketenangan dan kedekatan dengan Allah.
Sebagaimana pesan Habib Umar bin Hafidz, dzikir tidak hanya menghidupkan hati, tetapi juga menjadi jalan menuju hakikat kalimat tauhid, kesadaran bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah.