Bagi sebagian pengikut Abah Guru Sekumpul, pesan ini dianggap sebagai wasiat cinta. Mereka memahaminya bukan hanya sebagai syarat formal menjadi “anak angkat”, tetapi sebagai simbol kedekatan rohani.
Siapa pun yang mau istiqamah dalam sholawat, berarti sedang mendekatkan diri kepada beliau secara spiritual.
Tak sedikit jamaah yang menjadikan pesan ini sebagai rutinitas harian. Di berbagai daerah, majelis-majelis pengajian Abah Guru Sekumpul kerap membuka dengan bacaan sholawat bersama.
Bagi mereka, sholawat adalah jembatan antara cinta kepada Nabi dan keberkahan dari para wali Allah.
Pesan ini juga menggambarkan betapa lembut namun tegasnya cara Abah Guru Sekumpul mendidik umat. Beliau tidak meminta sesuatu yang sulit, tapi justru memberikan amalan sederhana yang sarat makna.
Satu kalimat pendek, “Shollallahu alaa Muhammad,” namun di baliknya terkandung kedalaman spiritual yang besar.
Bagi umat Islam, pesan Abah Guru Sekumpul ini menjadi pengingat bahwa cinta kepada guru harus berujung pada cinta kepada Rasulullah. Dan cinta kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam amal, bukan sekadar ucapan.
Dengan istiqamah membaca sholawat, seseorang tidak hanya memenuhi syarat menjadi “anak angkat” secara simbolik, tapi juga sedang melatih hatinya untuk dekat dengan Sang Nabi, sebagaimana yang dipesankan oleh Abah Guru Sekumpul.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!