SketsaNusantara.id – Idul Adha di Indonesia jatuh tanggal 6 Juni 2025. Di tengah gegap gempita Idul Adha yang identik dengan lantunan takbir dan penyembelihan sapi, warga Kabupaten Kudus justru tampil berbeda.
Di daerah yang dikenal dengan julukan Kota Kretek ini, kerbau mengambil peran utama dalam ritual kurban, menggantikan posisi sapi.
Unik? Tentu saja. Tapi di balik pilihan tersebut, tersembunyi kisah sejarah dan nilai toleransi yang dalam.
Bukan tanpa alasan warga Kudus menjauhi sapi dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ibadah kurban.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Official Menara Kudus, larangan ini berpijak pada ajaran dan keteladanan Sunan Kudus, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal bijaksana dalam menyebarkan agama Islam.
Bernama asli Ja’far Ash-Shadiq, beliau diyakini menghindari penyembelihan sapi sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat Hindu yang saat itu merupakan penganut mayoritas di wilayah Kudus.
Dalam ajaran Hindu, sapi menempati posisi sakral dan dimuliakan layaknya seorang ibu yang memberi kehidupan.
Sunan Kudus memahami betul nilai ini, dan bukannya memaksakan ajaran, ia justru membangun jembatan dialog budaya. Alih-alih memicu konflik, ia menunjukkan bahwa Islam juga mengajarkan nilai-nilai toleransi dan rasa hormat terhadap keyakinan orang lain.
Tradisi itu tak luntur meski zaman berganti. Hingga kini, masyarakat Kudus tetap mempertahankan warisan tersebut dengan tidak menyembelih sapi, bahkan di luar momen keagamaan sekalipun.
Sebagai gantinya, mereka memilih kerbau, kambing, atau domba untuk kurban. Pilihan ini bukan sekadar ritual, tapi juga bentuk penghargaan terhadap sejarah dan warisan budaya yang telah menyatu dalam kehidupan mereka.
Menariknya, semangat toleransi ini tak hanya terekam dalam laku hidup, tetapi juga dalam arsitektur.