religi

Bukan Sunan Bonang apalagi Sunan Kalijaga, Tembang Tombo Ati Ternyata Punya Asal-usul yang Lebih Baheula

Kamis, 10 April 2025 | 05:00 WIB
Ilustrasi, siapa pencipta lagu tombo ati yang sering dikira hasil karya Sunan Kalijaga atau Sunan Bonang? (Pexels/arzu)

SketsaNusantara.id - Banyak orang mengenal lagu “Tombo Ati” sebagai karya dari Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga.

Lagu ini kerap dinyanyikan di berbagai majelis. Liriknya sederhana, tapi dalam. Pesannya juga menenangkan sekaligus mengingatkan. Tak heran jika “Tombo Ati” begitu membekas di hati umat.

Namun, tahukah kamu bahwa isi dari lagu ini sudah ada jauh sebelum era Wali Songo? Bahkan berasal dari seorang ulama abad ke-3 Hijriyah.

Baca Juga: 4 Wisata Religi di Surabaya untuk Liburan Bersama Keluarga di Hari Raya Idul Fitri, Ada Ziarah Wali Songo hingga Masjid Cheng Hoo

Dilansir dari Islami.co, namanya adalah Ibrahim bin Ahmad, atau lebih dikenal sebagai Abu Ishaq al-Khawwash. Ia merupakan seorang sufi besar yang dikenal luas di zamannya.

Imam an-Nawawi, seorang ulama terkemuka yang hidup beberapa abad setelah al-Khawwash, pernah mengutip pernyataannya dalam kitab fenomenal al-Adzkar.

Dalam kitab itu, an-Nawawi menukil sebuah kalimat yang sangat mirip dengan inti ajaran dalam lagu “Tombo Ati”.

Baca Juga: Puasa dan Wali Songo: Rahasia Kuno yang Membentuk Masyarakat Jawa hingga Zaman Sekarang

Ibrahim al-Khawwash mengatakan, “Obat hati itu ada 5: membaca Al-Quran dengan tadabbur (menghayati makna), mengosongkan perut, menegakkan malam, berdzikir khusyuk di waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang saleh.”

Pesan tersebut tidak hanya bernilai spiritual tinggi, tapi juga menjadi kerangka ajaran tasawuf yang praktis. Menariknya, 5 poin tersebut adalah inti dari bait-bait dalam “Tombo Ati” yang populer itu.

Baca Juga: 4 Cara Unik Wali Songo Mengajarkan Puasa Ramadhan ke Masyarakat Nusantara

1. Membaca Al Quran dan Menghayati Maknanya

“Tombo ati seku cendekia, moco Qur’an angen-angen sak maknane.”

Ini sejalan dengan pernyataan “Qira’atul Qur’an bit tadabbur”. Maksudnya bukan hanya membaca, tapi juga memahami. Bukan sekadar lisan yang melafal, melainkan hati yang merenung.

Halaman:

Tags

Terkini