SketsaNusantara.id - I’tikaf adalah ibadah yang sangat dianjurkan, terutama di bulan Ramadhan.
Banyak umat Muslim melaksanakannya di masjid sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah.
Namun, berapa lama sebenarnya durasi i’tikaf? Apakah boleh dilakukan selama 24 jam penuh atau ada batas minimalnya?
Baca Juga: Teks Kultum Ramadhan 2025: Rahasia agar Ibadah Puasa Sempurna dan Diterima Allah SWT
Dalam Islam, i’tikaf memiliki dasar dari Al Quran dan hadis. Rasulullah SAW rutin melakukan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan.
Para ulama juga telah membahas terkait durasi dan tempat pelaksanaan i’tikaf. Berikut penjelasannya, sebagaimana dirangkum dari Muhammadiyah.or.id.
I’tikaf dapat dilakukan kapan saja, tetapi waktu yang paling utama adalah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Umar r.a.:
"Rasulullah saw. selalu beri‘tikaf pada sepuluh hari yang penghabisan di bulan Ramadhan." (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Nabi Muhammad SAW bahkan terus melaksanakan i’tikaf sejak beliau tiba di Madinah hingga wafat. Setelah itu, istri-istrinya pun meneruskan kebiasaan ini.
Dalam hal durasi, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Secara umum, ada 2 pandangan utama terkait batas minimal i’tikaf:
1. Pendapat Al-Hanafiyah
I’tikaf boleh dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tanpa ada batas minimal yang ketat.