SketsaNusantara.id - Bulan Ramadhan adalah waktu ketika Rasulullah Nabi Muhammad SAW mengalami sebuah peristiwa yang mengubah sejarah dunia.
Di usia 40 tahun, berdiam di dalam kesunyian Gua Hira, beliau menerima wahyu pertama yang menandai awal kenabiannya.
Dilansir dari NU.or.id, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum Hijriyah, atau sekitar awal Februari 610 Masehi menurut pakar astronomi Syekh Mahmud Basya.
Sebelum menerima wahyu, Nabi Muhammad sering menyendiri di Gua Hira untuk berkhalwat.
Beliau menjauh dari hiruk-pikuk masyarakat dan tenggelam dalam ibadah. Ritual ini mirip dengan cara ibadah kakeknya, Nabi Ibrahim as.
Kadang-kadang, beliau tinggal di sana selama 10 hari, bahkan hingga satu bulan. Di tempat itu, beliau merenungi kehidupan, mencari makna yang lebih dalam dari keberadaan manusia.
Suatu malam yang tenang, di tengah ibadahnya, Nabi Muhammad tiba-tiba didatangi sosok yang belum pernah dikenalnya.
Sosok tersebut adalah malaikat Jibril. Dengan penuh wibawa, Jibril menyampaikan kabar besar,
“Bergembiralah wahai Muhammad, aku Jibril. Dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini.”
Jibril kemudian memerintahkan Nabi untuk membaca, “Iqra’!” Namun, Nabi menjawab dengan penuh kejujuran, “Mâ anâ bi qarî’in, aku tidak bisa membaca.” Perintah itu diulang hingga tiga kali, dan jawaban Nabi tetap sama. Setelah itu, Jibril membacakan lima ayat pertama dari Surat Al-‘Alaq:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5)