Kamis, 2 Juli 2026

Digambarkan Buruk Rupa Bermata Lebar, Bagong Menjadi Simbol Ulama, Punya Senjata Khas Petani

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 16 Juli 2024 | 18:35 WIB
Bagong dalam wayang kulit punya simbol-simbol yang seharusnya dimiliki para ulama. (Tangkap layar Youtube Wildan F H)
Bagong dalam wayang kulit punya simbol-simbol yang seharusnya dimiliki para ulama. (Tangkap layar Youtube Wildan F H)

SketsaNusantara.id - Bagong adalah karakter wayang kulit yang dikisahkan sebagai bagian dari Punakawan, para pengasuh ksatria Pandawa.

Karakter Bagong digambarkan buruk rupa, dengan mata dan wajah lebar, serta mulut besar. Tubuhnya yang gemuk pendek mirip dengan ayahnya, Semar.

Perwujudan Bagong tersebut sebenarnya mencerminkan sifatnya yang suka bercanda dan bicara apa adanya alias blak-blakan.

Baca Juga: Dakwah Wali Songo Tergantung pada 4 Tokoh Wayang Kulit ini, Gambaran Para Nabi dan Rasul yang Sering Diremehkan

Perangainya yang polos dan mengundang kelucuan juga mengingatkan tentang kebijaksanaan.

Dalam Gagrak Banyumasan, karakter ini disebut Bawor dengan sedikit perbedaan dari karakter yang sama untuk wilayah Jawa Tengah.

Di Banyumas, Bawor ini merupakan anak tertua. Tentunya, hal itu berbeda jika dibandingkan dengan versi di Jawa Tengah karena anak yang tertua adalah Gareng, sedangkan Bagong anak bungsu.

Baca Juga: Kenapa Ada Banaspati dan Monyet di Pohon Tauhid Gunungan Wayang Kulit? Inilah Bukti Kecanggihan Dakwah Wali Songo di Nusantara

Nama Bawor punya makna yang terkait dengan peran seorang dai atau ulama.

"Bawor, kalau di Banyumas disebut Bawor, setibane bisa awor, kepanjangannya. Maksudnya, sebagai seorang dai harus bisa bergaul di manapun. Menyatu pada siapapun," kata Ustadz Faizar, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Muhammad Faizar, diunggah 15 November 2021.

Mata lebar yang dimiliki Bagong juga menyimbolkan bagaimana seorang dai atau ulama benar-benar punya kemampuan melihat kondisi umatnya.

Baca Juga: Arti Gambar Kerbau dan Harimau dalam Gunungan Wayang Kulit, Ada Kaitannya dengan Mimpi Nabi Muhammad Sebelum Perang Uhud

"Makanya di sini digambarkan matanya lebar. Dai itu harus bisa melihat kondisi yang dibutuhkan umat. Karena dakwah itu menyeru sekaligus menjawab kebutuhan umat, sebagaimana dakwah Wali Songo dulu," lanjut Ustadz Faizar.

Keunikan lain dari Punakawan bisa dilihat dari senjata yang mereka miliki.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Muhammad Faizar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X