Kamis, 4 Juni 2026

Pesan Buya Yahya soal Perdebatan Sunni dan Syiah di Tengah Konflik Israel-AS vs Iran, Tekankan Niat Utama Bela Palestina demi Kemanusiaan

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Rabu, 25 Maret 2026 | 06:00 WIB
Buya Yahya tekankan kemanusiaan dan mendukung pihak yang membela Palestina di tengah ketegangan konflik Timur Tengah pasca serangan Israel-As ke Iran (Tangkap layar YouTube/Buya Yahya)
Buya Yahya tekankan kemanusiaan dan mendukung pihak yang membela Palestina di tengah ketegangan konflik Timur Tengah pasca serangan Israel-As ke Iran (Tangkap layar YouTube/Buya Yahya)

SketsaNusantara.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas seiring konflik antara Iran dengan Israel yang juga melibatkan Amerika Serikat (AS). Situasi ini memicu perdebatan di Indonesia, terutama terkait perbedaan Sunni dan Syiah.

Perseteruan antara Iran dan Israel sendiri bukan konflik sederhana. Hal ini berakar dari sejarah panjang, perbedaan ideologi, serta kepentingan geopolitik yang kompleks.

Konflik ini juga terkait pada dukungan Iran terhadap serangan Israel ke Palestina dan Lebanon, sehingga memperluas dampaknya hingga ke tingkat global.

Baca Juga: Sederet Kontroversi Nasaruddin Umar, Menag Ramai Dikritik karena Tak Setuju dengan Gerakan Boikot Produk AS-Israel di Tengah Konflik Timur Temgah

Di tengah situasi tersebut, muncul kembali perdebatan mengenai perbedaan antara Sunni dan Syiah. Perbedaan ini sejatinya berakar dari sejarah kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Kelompok Sunni atau Ahlusunnah wal Jamaah meyakini bahwa pemimpin umat Islam dipilih melalui musyawarah, sebagaimana terpilihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sementara itu, Syiah meyakini bahwa kepemimpinan seharusnya berada di tangan keluarga Nabi, dimulai dari Ali bin Abi Thalib.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Beredar Kabar Adik Benjamin Netanyahu dan Menteri Keamanan Israel Tewas Terkena Serangan Rudal Iran, Begini Faktanya

Seiring waktu, perbedaan tersebut berkembang menjadi perbedaan keyakinan ini juga kerap dimanfaatkan dalam persaingan geopolitik, seperti yang terlihat antara Iran dan negara-negara Sunni di Timur Tengah.

Iran dikenal sebagai negara mayoritas Syiah, sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir hingga Yordania merupakan negara-negara mayoritas Sunni dengan pandangan yang menganut Ahlusunnah wal Jama'ah.

Persaingan ini bukan konflik agama murni, melainkan persaingan kekuasaan. Iran dan Arab Saudi kerap mendukung pihak yang berlawanan dalam perang saudara (contoh: Yaman dan Suriah).

Namun, dalam konteks konflik Iran-Israel, muncul perspektif berbeda. Iran justru dikenal sebagai salah satu pihak yang secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap Palestina, meskipun mayoritas rakyat Palestina adalah Sunni.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Singgung Harga BBM Subsidi Minyak Dunia Dampak Perang Iran vs Israel-Amerika: Saya Cukup Pintar...

Hal ini kemudian memunculkan perdebatan di kalangan umat Islam, apakah perbedaan keyakinan harus menjadi penghalang dalam mendukung perjuangan Palestina? Bagaimana sikap kita di tengah ketegangan Timur Tengah pasca Israel-AS menyerang Iran?

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X