Tak heran jika postingan tersebut dicurigai merupakan ulah "buzzer" yang mulai bergerak melawan kritikan yang dilontarkan para mahasiswa seolah ingin meyakinkan masyarakat bahwa kondisi negara masih baik-baik saja. Mereka juga meminta warganet agar bersabar "beri waktu untuk Prabowo" meski banyak kebijakan yang meresahkan.
Bivitri Susanti pun menyoroti kondisi ini. Melalui akun Instagramnya, ia mendukung aksi "Indonesia Gelap" dan mengapresiasi ribuan mahasiswa yang turun ke jalan untuk memperbaiki kondisi negara yang makin carut marut.
Pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan itu juga sudah mulai hafal dengan pergerakan buzzer yang mulai membela pemerintah sehingga tuntutan masyarakat soal pendidikan yang layak hingga layanan publik yang lebih baik untuk masyarakat terlupakan begitu saja.
"Kita, warga, seakan cuma OBYEK dalam urusan negara. Bukan SUBYEK, padahal kita pemilik negara ini," tulis Bivitri dalam postingan akun Instagram @bivitrisusanti dikutip SketsaNusantara.id hari Rabu, 19 Februari 2025.
"Kita kadang jadi kelinci percobaan kebijakan, kadang jadi korban populisme. Layanan publik seperti pendidikan, bahkan penjaga pintu kereta, dipotong begitu saja, sementara pejabat nambah stafsus, buzzer,bikin acara kantor atau retreat mahal-mahal," imbuhnya.
"Setelah kita kritik, mungkin sedikit diganti, ada pejabat yang mungkin dipecat, dipoles dikit-dikit biar kita nggak marah. Lalu ditimpali buzzers berisik yang memang butuh duit karena lapangan kerja gak ada dan pendidikan membuat bodoh," tandasnya.
Melalui postingannya Bivitri Susanti ingin memberikan semangat bagi para pejuang kebenaran untuk terus melawan dan berjuang untuk memperbaiki negara meski perkataan rakyat tak lagi didengar.
Baca Juga: BRI Dukung UMKM Kebumen: Agrominafiber Handicraft Ekspor Produk Ramah Lingkungan
"Sampai kapan kita jadi obyek mainan terus, sementara pejabat mengeruk semua buat diri dan pengusaha besar majikannya?" protesnya.
"Negara ada karena warga, bukan karena pejabat. Kita yang bikin mereka jadi pejabat, kaya raya, bisa ambil tanah, laut, kekayaan alam yang sebenarnya punya kita. Maka kita yang sebenarnya bisa menurunkan mereka," ucapnya.
Bivitri Susanti juga ikut kesal dengan ulah buzzer yang terus menyerang di media sosial dan meminta semua orang untuk fokus pada usaha untuk melawan pemerintah yang makin "menindas rakyat".
Baca Juga: Bersama Santri, Polres Jombang Amankan 2600 Botol Miras Jelang Ramadhan: Miras Akar dari Kejahatan
"Daripada ngajak ribut pihak 58% atau menyalahkan kawan-kawan yang tak berprinsip membela pihak (pemerintah) yang menindas rakyat, lebih baik kita terus melawan saja," tuturnya.