SketsaNusantara.id - Media sosial belakangan ini dihebohkan dengan kejadian aneh saat puluhan siswa mengalami kesurupan massal yang terjadi di SMP Negeri 4 Jember pada hari Senin, 17 Februari 2025.
Akun Instagram @jemberawesome melaporkan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 09:00 WIB pagi setelah upacara rutin yang dilaksanakan tiap hari Senin.
Diketahui, ada 32 siswa dari kelas 7 sampai kelas 9 yang mengalami keseurupan masal di SMPN 4 Jember. Saksi mata menyebut kejadian ini bermula dari 2 orang siswa yang mengalami kesurupan lalu merembet ke siswa lain.
Peristiwa ini sempat bikin heboh dan ramai jadi perbincangan publik di media sosial. Salah satu warganet menyebut kesurupan massal ini bukan hal mistis yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
"Kesurupan tidak ada hubungannya dengan mistis, Mungkin mereka kesurupan karena ada masalah pikiran," komentar akun Instagram @udinsupratman_.
"Karena kesurupan secara ilmiah di sebabkan karena seseorang yang sering berpikir dengan suatu hal yang tidak bisa mereka kendalikan yang akhirnya mereka stress akibat tekanan berlebihan dari pikiran. Menurut opini pribadi saya sendiri, jadi jangan sering mengakaitkan kesurupan dengan hal mistis," pungkasnya.
Lantas, bagaimana fenomena kesurupan ini menurut penjelasan medis? Benarkah kejadian ini tak ada hubungannya dengan hal mistis dan dipicu oleh stress berlebihan?
Menurut Rudi Margono, dokter sekaligus konten kreator yang kerap membagikan edukasi kesehatan di akun Instagram @itsdoktermuda menyebut fenomena kesurupan ini dikategorikan sebagai salah satu gangguan kejiwaan yang disebut Dissociative Trance Disorder (DTD) atau Possession Trance Disorder (PTD).
Menurut ilmu kejiwaan, kesurupan merupakan gangguan disosiatif yang terjadi ketika seseorang mengalami perubahan kesadaran atau identitas diri yang ekstrem.
Individu yang mengalami kondisi ini bisa kehilangan kontrol atas tubuhnya, berbicara dengan suara berbeda, atau berperilaku di luar kesadarannya. Dalam banyak kasus, kondisi ini dipicu oleh faktor psikologis, bukan akibat kemasukan makhluk halus.
Faktor budaya dan sugesti memiliki peran besar sehingga gangguan mental ini lebih sering dikaitkan dengan hal-hal mistis oleh masyarakat yang mempercayai adanya roh atau makhluk halus.