Kamis, 4 Juni 2026

Heboh Murid SMPN 4 Jember Kesurupan Massal, Pakar Kesehatan Sebut Fenomena Ini Termasuk Gangguan Mental Bukan Hal Mistis, Begini Cara Mengatasinya

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Selasa, 18 Februari 2025 | 09:39 WIB
Potret SMPN 4 Jember yang sempat heboh usai terjadi kesurupan masal di sekolah, bagaimana penjelasannya menurut medis?  (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)
Potret SMPN 4 Jember yang sempat heboh usai terjadi kesurupan masal di sekolah, bagaimana penjelasannya menurut medis? (SketsaNusantara.id/ Sigit Gita Pamuji)

Ketika seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi dan berada dalam lingkungan yang mempercayai fenomena kesurupan, otaknya bisa menciptakan kondisi disosiatif yang membuatnya seolah-olah kerasukan.

"Seseorang yang mengalami gangguan DTD akan mengalami perubahan status mental karena terjadi keputusan hubungan antara memori, identitas, pikiran dan juga lingkungan," kata Rudi dikutip SketsaNusantara.id dari postingan akun Instagram @itsdoktermuda yang diunggah pada 28 Mei 2024.

Mengutip dari situs Universitas Airlanggar (Unair) Surabaya, gangguan identitas disosiatif didefinisikan sebagai salah satu masalah kesehatan mental yang ditandai dengan adanya disosiasi atau ketidaksesuaian hubungan antara emosi, pikiran, tindakan, hingga identitas seseorang.

Individu dengan gangguan identitas disosiatif akan tampak seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda sehingga terlihat seperti mengalami kesurupan karena disangka kemasukan roh halus.

Seseorang dengan gangguan identitas disosiatif akan memunculkan nama, suara, tingkah laku dan sifat pribadi yang berbeda dengan kesehariannya.

Perilaku yang sangat eksterm akan tampak sangat nyata hingga membuat individu lain di sekitarnya merasa khawatir. Hal inilah yang bisa memicu "kesurupan masal" yang awalnya terjadi pada 2 murid SMPN 4 Jember hingga akhirnya merembet ke 30 siswa lainnya.

"Kadang di Indonesia itu masih percaya hal-hal mitos berbau mistis, makanya gangguan ini sering disebut kesurupan makhluk halus," imbuh Rudi Margono.

"Siswa yang mengalami kesurupan itu aku yakin dia punya emotional problen mungkin karena ada trauma atau masalah psikis sebelumnya, nah ketika terjadi gangguan ini ikut mempengaruhi temannya yang lain jadilah kesurupan masal," tuturnya.

Penyebab gangguan Transdisosiasi DTD atau PTD ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adanya stress berlebih dan tekanan mental.

Tekanan psikologis menyebabkan stress berlebihan yang bisa terjadi di mana saja baik itu di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.

Beberapa yang menjadi pemicu utama trandisdisosiasi, contohnya karena suatu individu pernah jadi korban perundungan, tekanan akademik yang berat, konflik keluarga, atau pengalaman traumatis lainnya.

Selain itu seseorang akan lebih rentan mengalami gangguan disosiatif karena faktor genetik lantaran kepribadian individu tersebut lebih mudah terpengaruh lingkungan hingga cepat mengalami stres.

Salah satu hal yang kerap menjadi pemicu gangguan mental ini adalah keyakinan masyarakat terhadap makhluk gaib dapat mempengaruhi munculnya gejala kesurupan. Orang yang tumbuh di lingkungan yang sering membicarakan fenomena supranatural lebih berisiko mengalami gangguan kejiwaan ini.

Gangguan disosiasi ini juga dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri yang salah akibat stres jangka panjang.

Ketika seseorang tidak mampu menghadapi masalah atau tekanan berat secara rasional, tubuh dan pikirannya bereaksi dengan cara yang tidak biasa membentuk identitas baru, hingga seseorang dianggap mengalami kesurupan.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X