Kejadian itu membuatnya frustrasi. Bahkan pada tahap protes kepada yang maha kuasa. Pasalnya, ia merasakan kegagalan demi kegagalan dalam setiap percobaannya.
“Saya sempat pada fase protes kepada Tuhan. Saya tidak sholat, hal itu disebabkan kegagalan demi kegagalan yang saya rasakan,” ucapnya.
Gogot juga mengaku bahwa sempat iri kepada teman-temannya yang sudah mapan lebih dulu. Kemudian ada tamparan dari Tuhan untuknya.
Ternyata ia menemukan bahwa ada ujian yang lebih berat terhadap teman-temannya yang dianggap sudah sukses lebih dulu. Gogot kemudian banyak bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepadanya.
Gogot mulai menikmati profesinya sebagai wartawan, selalu bersyukur atas apa yang diperolehnya.
Beberapa tahun kemudian, ia dipanggil oleh salah satu senior yang merupakan seorang pengusaha. Diberikan uang, lalu di tanya apa sudah nyaman dan menikmati jadi wartawan?
“Iya saya nyaman dan menikmati” tegasnya.
Baca Juga: Polisi Alami Kesulitan saat Interogasi Pemuda Jember yang Penggal Ayahnya Lalu Coba Bunuh Diri
Kemudian seniornya itu kembali bertanya, apakah pernah bertanya kepada istri dan keluargamu, mereka senang atau tidak dengan profesi Gogot yang menjadi wartawan. Hal itu kemudian juga menjadi tamparan baginya.
Saat mudik lebaran ke Magetan, ia menyebut bahwa didoakan oleh ibunya agar memiliki pekerjaan yang layak seperti teman-temannya.
Beberapa waktu setelah itu, setelah gagal atas semua percobaan yang dilakukan, Gogot akhirnya diterima di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jember pada tahun 2009-2014 dan melanjutkan kariernya ke KPU Jatim 2014-2023.
“Setelah saya mudik itu, saya kemudian diterima menjadi anggota KPU Jember lalu di KPU Jatim,” jelasnya.